Bukit Teletubbies dan Pasir Berbisik

Pemandangan Bukit Teletubbies

 

Bukit Teletubbies
Berhubung kami hanya diberi waktu oleh supir hingga jam 08.00, kami pun turun dan kembali ke Jeep. Berpose sejenak di depan jeep, lalu melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubbies. Kami melewati Gurun Pasir, hingga akhirnya sampai pada gudukan-gundukan bukit dengan rerumputan yang menguning, persis seperti bukit Teletubbies. Indaaah sekali. Menurut orang setempat, disini akan tampak lebih indah jika kami datang di musim hujan.
Ratusan Jeep Berjajar di Bukit Teletubbies
Savana
Bukit Teletubbies
Rerumputan yang tumbuh di bukit tersebut akan menghijau, segar dan sejuk dipandang mata. Hmmm…jangankan membayangkan hal itu. Apa yang nampak di depan mata saja sudah indah sekali. Kami juga diberitahu oleh supir kami, kalau dekat bukit Teletubbies ini ada jalan menuju Gunung Semeru. Wahh….insyaAllah kelak saya bisa kesana. Menikmati alam sambil bermalam di Ranu Kumbolo.
Pasir Berbisik

 

Setelah puas menjepretkan kamera, kami lanjutkan ke Pasir Berbisik. Disini memang populer setelah jadi tempat syuting film layar lebar Pasir berbisik. Menurut saya, kondisi disini sangat menenangkan. Kita bisa berdiri di atas bukit, sambil mendengarkan hembusan pasir yang terbawa angin. Seperti sedang berbisik, mengabarkan keindahan kawasan Bromo dengan alunan merdunya. Mengajak kita untuk duduk diam,meresapi kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Edelweis di lautan pasir
Me and My HMAN Jacket
Jalan Lurus
Malang

Kami menginap di Hotel Helios, Malang. Terletak tak jauh dari stasiun Kota Malang. Kami menikmati malam minggu di kota ini, dengan suhu udara yang tak jauh berbeda dari Kota Bandung. Sejuk, dan tidak ada macet. Itu menariknya. Jalanan tergolong sepi untuk ukuran malam minggu, bersih, dan menyajikan suasana memikat. Cocok sekali untuk liburan dan melepas penat. Tidak banyak tempat yang kami kunjungi di Malang, hanya Mall Kota Malang dan Toko Oen.


Day – 4 Malang, back to Bandung
Berbeda dengan perjalanan berangkat, saat kembali ke Bandung kami memilih kelas eksekutif kereta api Malabar. Tentunya kenyamanan seatnya jauh berbeda. Dengan tempat duduk dua-dua dan semua kursinya menghadap ke depan. Selain itu, kabinnya tidak berisik, karena dilengkapi dengan peredam yang baik.
Namun satu hal yang tidak kami dapatkan di kelas eksekutif.
Keakraban.
Di kelas ini, penumpang tidak berniat untuk saling mengenal satu sama lain. Mereka duduk sendiri-sendiri, menikmati perjalanan masing-masing tanpa merasa penting untuk saling menyapa. Jauh berbeda dengan penumpang yang duduk di kelas ekonomi yang bisa dengan mudahnya saling membaur, berbagi makanan, berbagi cerita, bahkan saling tertawa dan saling menyapa dengan kru Kereta Api.
Tiba-tiba…disaat seperti itu saya justru merindukan duduk di bangku kelas ekonomi….:)
Apalah artinya kenyamanan kalau perjalanan jadi membosankan. Demikian quote saya.
Pulaang…#kereta eksekutif Malabar

1 comment

AdBlocker Message

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.