Candi Prambanan Lagi? Why Not?
Di cerita sebelumnya saya membahas soal Malioboro, homestay Rumah Yogya yang saya tempati selama 2 hari tinggal di Jogja, dan juga mengenal budaya Jawa dari Pasar Lempuyangan. Nah, setelah selesai sarapan, perjalanan kami lanjutkan ke Candi Prambanan.
Cerita sebelumnya: Menyapa Kehidupan Pagi di Yogyakarta
Sebenarnya saya terbilang sering berkunjung ke candi ini. Tapi akhirnya kemari lagi karena adik saya belum pernah. Lagipula, meskipun sudah pernah, pasti ada saja yang berbeda, yaitu suasana. Vibe. #tsaaah…
Jarak dari Pasar Lempuyangan ke Candi Prambanan sekitar 15,5 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan kurang lebih 40 menit tanpa macet dan nggak ngebut di jalan. Tiket masuk Candi Prambanan Rp40.000/orang. Jika membeli tiket terusan ke Candi Ratu Boko, kita dikenakan biaya Rp75.000/orang untuk wisatawan domestik. Kenaikan harganya lumayan lho. Waktu pertama kali ke Candi Prambanan tahun 2011, tiketnya hanya Rp30.000/orang untuk Candi Prambanan, dan tiket terusan hanya Rp40.000. Kenaikan ini kalau nggak salah waktu akhir tahun 2015 deh. Harga tiket dinaikkan hingga dua kali lipat.
Tapi nggak apa-apa lah ya, toh kalau kawasan Candi Prambanan ini kan bersih dan fasilitasnya memang bagus. Kita bisa mudah menemukan toilet yang bersih dan modern, tempat cuci tangan di setiap tempat, gazebo yang bebas kita gunakan jika berkumpul dengan keluarga atau teman, mushalla yang bersih, dan tentunya bangunan Candi yang terawat. By the way, saya memutuskan untuk mengeksplore Candi Prambanan saja, tanpa mengunjungi Ratu Boko. Biar lebih puas dan nggak terburu-buru.
Kalau yang mau lihat seperti apa Keraton Ratu Boko, bisa baca disini:
Jogja with my beloved friends-Keraton Ratu Boko
Jogja with my beloved friends-Keraton Ratu Boko 2
Karena Jogja Selalu Punya Cerita-Part 2

Setiap sudut Candi Prambanan tidak ada yang mengecewakan. Semua mengundang decak kagum para pengunjung, baik pengunjung domestik, maupun internasional. Setiap ukiran di dindingnya, stupanya, juga guratan-guratannya memiliki makna dan filosofi yang mendalam. Membuktikan betapa tingginya peradaban para leluhur kita dulu. Banyak diantara reruntuhan candi yang terserak, kini tengah dipugar dan diperbaiki disana-sini. Mungkin nanti saya akan sempatkan menulis sejarah Candi Prambanan ini beserta mitosnya ya. Tapi nggak di postingan ini, nanti kepanjangan. Sekarang kita lihat-lihat fotonya saja dulu.








Oh iya, jika anda lapar atau haus, di dalam kawasan Candi Prambanan juga ada restaurant dan café yang menyajikan menu khas Jawa. Harganya? Nggak usah takut, disini semuanya terjangkau. Atau jika anda mau, anda juga bisa jajan-jajan di lapak milik pedagang kaki lima yang ditata di jalur pintu keluar candi. Lagi-lagi, anda tak perlu khawatir akan harganya. Semuanya terjangkau. Mulai dari Rp10.000/porsi hingga Rp25.000 saja. Jika mau beli souvenir juga tersedia disini. Harganya? Nggak beda jauh dari toko souvenir di daerah Malioboro. Malahan menurut saya di Prambanan ini lebih murah dan lebih beragam.

Lalu, jika anda lelah berkeliling dengan berjalan kaki, pengelola Candi Prambanan menyediakan odong-odong (semacam mobil piknik) yang bisa anda naiki. Anda hanya dikenakan tarif sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000 saja/orang. Tergantung anda ingin kelilingnya kemana saja. Makin jauh dan semakin banyak yang hendak anda kelilingi, maka semakin mahal harga sewa odong-odongnya. Karena saya dan adik saya lagi santai, juga stamina kami masih full, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki. Malu lah ya sama bule-bule. Mereka sudah tua, terus jauh-jauh datang kesini, kelilingnya jalan kaki. Lha kok kita yang masih muda malah pengen naik odong-odong. Sensasinya kurang, rek!


Kami menuju bangunan candi yang tengah dipugar. Maafkan, saya lupa nama candinya karena panas menyengat di tempat itu. Lucunya, saat kami tengah berfoto, ada dua orang turis juga mengikuti kami. Mereka berasal dari Korea. Sepertinya sih fotografer. Tapinya…saat mereka bertanya, mereka menggunakan bahasanya yang saya nggak ngerti sama sekali. Meskipun saya penggemar Running Man, tapi yang saya tahu dari bahasa Korea hanyalah ucapan terima kasih mereka. Selebihnya, nggak ngerti. And then, they cannot speak English! Hahaha…so…kami hanya berkomunikasi dengan bahasa purba (you know what I mean?)

Di Prambanan, saya dan adik saya menghabiskan waktu sekitar lima jam. Lama juga ya? Tapi nggak terasa. Kalau perut nggak lapar, rasanya kami masih mau berlama-lama di sekitar candi. Main ayunan yang disediakan pengelola.
Nah, hampir lupa. Waktu terakhir ke Ratu Boko tahun 2015, saya kehilangan rusa-rusa yang biasa menghuni kawasan Ratu Boko. Ternyata, rusa-rusa itu dipindahkan ke kawasan Candi Prambanan. Tepatnya di sebelah pintu keluar Candi. Waaah…jumlah mereka tambah banyak, dan tampak lebih sehat jika dibandingkan saat mereka ditaruh di Ratu Boko.

Keluar dari Candi Prambanan, saya mengajak Pia ke The House of Raminten. Apa sih yang spesial di tempat itu? Rasa makanannya sih biasa, tapi kental dengan nuansa Jawa. Itu yang saya suka. Juga porsi beberapa makanan yang nggak umum. Salah satunya es kelapa ini. Harganya tergolong murah, meriah. Pesanan kami di bawah ini hanya menghabiskan sekitar 80ribuan. Satu yang saya nggak suka di Raminten. Bau kemenyannya itu lho…menyengat. Bagi yang nggak suka bau mistis pasti nggak betah disini.

Setelah kenyang dan puas makan di Raminten, kemana?
Beli tiket Prameks, lalu…Bobo siang!
Btw. Cara beli tiket Prameks jurusan Yogyakarta – Solo Balapan nanti saya bahas khusus di postingan berbeda deh. Biar lebih jelas dan bisa bermanfaat buat yang pengen jalan-jalan ke Jogja, lalu nyambung ke Solo.
Baca juga: Perjalanan Bandung-Yogyakarta dengan Kereta Api Turangga
Add comment