Benarkah Kepalsuan di Media Sosial adalah Bentuk dari Self Defense Mechanism akibat Frustasi?

Benarkah kepalsuan di media sosial adalah bentuk dari self defense mechanism akibat frustasi?

Akhir-akhir ini, kalau lihat media sosial, kita suka ketemu hal yang aneh-aneh nggak sih? Makin hari semakin saja ada keanehan.

Semua dijadikan konten, dari hal yang remeh temeh sampai konyol dan nggak penting, semua diposting. Semuanya pengen nampil. FOMO. Fear of Missing Out. Takut ketinggalan jaman, apalagi dibilang kuno.

Tapi kenyataannya, tidak semua yang ada di media sosial itu benar. Bahkan seringkali saya menemukan kepalsuan.

Pribadi palsu, status palsu, agama palsu, atau bahkan, persona palsu! Lalu benarkah kepalsuan di media sosial adalah bentuk dari self defense mechanism akibat frustasi? Nah, awal-awal kan saya bingung tuh, kok ada sih orang yang fake banget. Bahkan rela menipu orang banyak, lewat laman media sosialnya. 

Dulu sempat tren kan istilah Sociopath? Tapi ketika saya baca lebih dalam, ternyata bisa dimungkinkan orang yang “fake” tersebut sedang melindungi dirinya sendiri, dari tekanan yang diterimanya.

Yuk kita bahas bareng-bareng. Teori aslinya cukup berat, tapi saya akan membahasakan dengan bahasa sederhana, supaya ilmu pengetahuan ini bisa dengan mudah dinikmati kita semua.

Teori Dasar Perilaku Manusia dan Asal Usul Frustasi

Menurut teori perilaku manusia yang dikemukakan oleh Leon G. Schiffman dan Joseph Wisenblit, keduanya adalah seorang ahli dalam bidang perilaku konsumen di Amerika, Setiap manusia punya kebutuhan dan tujuan. Namun demikian, tidak semua manusia dapat terpenuhi kebutuhan, tujuan, dan harapannya.

Oleh karenanya, kita mengenal ada tujuan yang sukses, dan ada pula tujuan yang gagal.

Self Defense mechanism
Ilustrasi Frustasi. Sumber: pexels-david-garrison

Individu yang sukses tentu saja dia memiliki prestise dan juga kebanggaan bagi dirinya. Efek jangka panjangnya, self esteem-nya meningkat.

Rasa berharganya sebagai manusia membuatnya sanggup bertahan dan memiliki kekuatan hidup.

Lalu, bagaimana bagi mereka yang tidak berhasil mencapai tujuan atau memenuhi ekspektasi kehidupannya?

Mereka akan frustasi.

Nah berdasarkan teori, frustasi adalah perasaan yang dihasilkan dari kegagalan dalam mencapai tujuan. Sehingga secara naluriah, mekanisme pertahanan akan dibangun oleh diri kita. Atau yang biasa disebut dengan Defense Mechanism. Sebuah perilaku kognitif yang dijadikan tameng untuk mengatasi frustasi. Apa saja bentuknya?

Baca juga: Sebesar Itukah Memory Kita?

Bentuk-bentuk Self Defense Mechanism

Aggression/Agresif

Perilaku agresif dalam melindungi harga diri dan mempertahankan rasa berharga.

Misalkan, seorang pemain bulu tangkis kalah dalam pertandingan. Karena tidak menerima kekalahannya, dia membanting raketnya. Tindakan ini disebut tindakan agresif.

Rationalization/Merasionalisasi keadaan

Rasionalisasi adalah tindakan dimana seorang individu mencari pembenaran dengan alasan. Biasanya karena tujuannya tidak tercapai.

Misalkan, nggak lulus ujian. Lalu seseorang berpikir, dosennya ngasih soal kebanyakan sih, atau waktunya mepet, nggak cukup buat belajar,

atau…lagi ada masalah dirumah, sehingga nggak bisa konsen dalam mengerjakan ujian.

baca juga: Manfaat berteman sejak muda, bisa menjauhkan dari orang toxic

Regression

Regresi adalah ketika seseorang yang frustasi lalu menunjukkan perilaku yang kekanak-kanakan dan tidak dewasa.

Pernah terjadi ketika pembeli sedang berburu diskon di sebuah mall. Karena berebut barang, mereka saling berkelahi, lalu merobek pakaian sehingga pakaian yang didiskon tersebut tidak dapat dibeli oleh siapapun.

Withdrawal/Menarik diri

Self defense mechanism yang berikutnya adalah withdrawal. Menarik diri dari lingkungan sekitar.

Misalkan, ketika seseorang gagal dalam usahanya, dia menjauhi teman-temannya karena tidak ingin ditanya mengapa dia gagal.

Kepalsuan di Media Sosial adalah Bentuk dari Self Defense Mechanism
Ilustrasi Withdrawal. Sumber: pexels, Anete Lusina

Baca juga: Sabtu Bercerita

Daydreaming/Menghayal

Nah ini yang sering terjadi. Nge-Halu kalau kata Gen Z. Melamun, atau berfantasi, memungkinkan individu untuk mencapai kepuasan imajiner dari kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Yang penting bayangin dulu deh, nge-Halu dulu, supaya bahagia.

Kepalsuan di Media Sosial adalah Bentuk dari Self Defense Mechanism
Ilustrasi Daydreaming. Sumber: pexels-katii-bishop

Kalau dulu sebelum ada medsos, daydreaming ini dilakukan secara mandiri, dinikmati sendiri juga. Kalau sekarang, justru diposting di media sosial.

Ini sih yang menurut saya berbahaya. Karena secara tidak sadar ya dia menciptakan persona baru, yang palsu dan bukan dirinya.

Baca juga: Berbakat di Revolusi Industri 4.0

Projection/Menyalahkan orang lain

Projection ini terjadi ketika seseorang gagal mencapai tujuannya, lalu dia menyalahkan orang lain/objek lain.

Misal, “Gara-gara kamu sih, saya gagal nggak jadi naik jabatan.”

Identification

Orang ini secara tidak sadar mengidentifikasikan dirinya dengan orang lain yang nasibnya serupa.

Misalkan dia frustasi karena jerawatan, lalu dia akan melihat orang yang jerawatan seperti dirinya juga. Tidak percaya diri, dan malu bergaul.

Repression

Cara lain seorang individu dalam menghindari tekanan dari frustasi adalah dengan mengekang kebutuhan yang tidak memuaskannya. Meskipun demikian, individu tersebut boleh jadi memaksa mengeluarkan kebutuhannya dari pikiran mereka.

Istilahnya, memaksa dan memendam keinginannya. Nah hasil dari “pemaksaan memendam keinginan” ini disebut sublimasi. Yaitu suatu keadaan dimana seseorang menekan manifestasi kebutuhannya dalam bentuk socially acceptable.

Contohnya misalkan, ada pasangan yang sudah menikah bertahun-tahun, namun belum dikaruniai anak. Alih-alih protes dengan keadaan, mereka memilih untuk menerima keadaannya.

Mereka menyantuni anak yatim, atau memperhatikan anak-anak kurang mampu, atau membuat kegiatan mengajar mengaji untuk anak-anak.

Dalam hatinya, mereka tentu tetap menginginkan anak, namun mereka memilih untuk menekan kebutuhan dan keinginannya, dengan kegiatan yang bisa memberikan manfaat kepada lingkungan sosialnya.

baca juga: Perempuan, Logika dan Perasaan. Mana yang duluan?

Lesson Learned

Dari panjangnya uraian di atas, kita bisa belajar bahwa setiap orang punya cara yang berbeda untuk melindungi dirinya. Hanya saja, manusia bisa memilih, akan melindungi dirinya dengan cara seperti apa.

Manusia dengan kekuatan mental yang baik dan pemikiran yang dewasa tentunya akan memilih proses defense mechanism yang tidak merugikan orang lain.

Selain itu, kita harus bisa meyakini bahwa, kegagalan itu bukanlah akhir dari segalanya. Pasti ada pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita, melalui kegagalan tersebut.

Ketika kehidupan tidak selalu mulus, ya nggak apa-apa, mungkin kita sedang diminta untuk lebih waspada.

Segitu dulu teman-teman, semoga bermanfaat ya.

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Add comment

AdBlocker Message

Our website is made possible by displaying online advertisements to our visitors. Please consider supporting us by disabling your ad blocker.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.