Pasar Kayu Muntilan adalah pemberhentian kami setelah selesai makan di Warung Sop Empal Bu Haryoko, yang saya bahas di tulisan sebelumnya. Saya ingin mengunjunginya karena Pasar Kayu Muntilan adalah lokasi syuting serial Netflix Gadis Kretek yang saya suka banget. Saya penasaran seperti apa suasananya. Kalian penasaran juga nggak?
Baca tulisan sebelumnya dalam Muntilan Series:
- Sehari di Muntilan, Mencicipi kuliner legendaris dan cafe kekiniannya
- Makan Siang di Sop Empal Bu Haryoko, Warung Legendaris di Muntilan
- Pasar Kayu Muntilan, Kota “M” Dalam Serial Netflix Gadis Kretek
- Njonja Munsen Coffee Dining & Space, Cafe Zero Waste dan Ramah Lingkungan di Muntilan
- Sate Jambu Muntilan, Warung Sate Legendaris Sejak 1959!
Lokasi Pasar Kayu Muntilan
Kompleks Pasar kayu Muntilan berada didesa Tamanagung kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Perjalanan dari Warung Sop Empal bu Haryoko ke Kompleks Pasar Kayu ini sekitar 8 menit menggunakan mobil, atau sekitar 4km. Kita bisa parkir di dalam kompleks ini ya.
Baca juga: Cerita dibalik rona wastra batik tulis Lasem
Disambut Keramahan Warga di Pasar Kayu Muntilan
Saat kami sampai, matahari sedang terik-teriknya. Namun panasnya tidak menyengat karena masih banyak angin yang berhembus.

Syahdu. Itu hal yang pertama kali saya tangkap di tempat ini. Vibesnya tenang, aman, nyaman. Sesekali terdengar suara mesin pemotong kayu. Tidak banyak orang di tempat ini. Hanya beberapa gelintir warga yang sedang bekerja, atau penjaga warung yang semuanya, ramah menyapa kami.
Sesaat setelah kami turun dari mobil, seorang bapak memberi tahu lokasi syuting. “Itu jalannya kesana Mbak. Lokasi syutingnya ada plang Kedai dan Toko Kayu.”
Saya pun mengucapkan terima kasih ke bapak tersebut. Dan setiap bertemu warga berikutnya, kami diberi tahu arah menuju lokasi yang ingin kami tuju. Kami berlima berjalan beriringan, sambil melihat-lihat jenis kayu yang dijual di Kompleks Pasar Kayu ini.
Hingga akhirnya kami sampai di Warung Yu Peni, yang ada dalam Serial Gadis Kretek.

Menurut Ibu pemiliknya, nama warung di Plang tersebut bukanlah namanya. Melainkan properti syuting. Ia tidak diperbolehkan menurunkannya, karena katanya akan digunakan kembali.
Wah, apakah ini bocoran kalau serial Gadis Kretek akan ada Sekuelnya?
Baca juga: Sejenak Mengenal Opa Lo, Pemilik Rumah Oma Opa Lasem
Kedai Kopi Tempat Jeng Yah Bernegosiasi Bisnis Rokok Kretek
Yang dicari akhirnya ketemu. Kedai kopi dimana Jeng Yah menemani ayahnya bernegosiasi bisnis dengan calon pembeli rokok kreteknya. Disinilah kita bisa melihat intuisi Jeng Yah yang tajam, sebagai pengusaha wanita, yang di jamannya tentu saja seringkali dipandang sebelah mata.
Oh iya, hati saya menghangat ketika ada seorang bapak dari dunia nyata, meminjamkan sepeda onthelnya untuk diletakkan di depan bangunan kedai. Untuk foto kami, katanya. Hasilnya jadi lebih estetik dan lebih hidup.

Waktu berfoto disini, seketika ingatan saya kembali ke setiap adegan di series Gadis Kretek yang memang banyak diambil di Pasar Kayu Muntilan.


Lalu lokasi dimana ia bertemu dengan Soeraja, dan juga Toko Merah, yang menjadi inti dari masalah yang dialami Jeng Yah dan Soeraja.
Sengaja tak saya ceritakan disini, karena buat kalian yang belum nonton, saya nggak spoiler ya.


Pasar Kayu Muntilan, Sederhana namun Sarat Makna
Kami berfoto di beberapa spot sederhana, tapi estetik. Camera friendly deh. Alhamdulillah, cuaca juga mendukung. Langit muntilan siang itu sangat biru, dengan awan-awan yang bergelayut manis di angkasa.

Buat saya, tempat ini sayang untuk dilewatkan jika kalian ke Muntilan, atau sedang perjalanan dari Yogyakarta ke Magelang maupun sebaliknya.
Tempat ini indah, warganya ramah, dan juga menyenangkan untuk berfoto. Apalagi buat kalian yang suka tempat legendaris dan kuno seperti saya. Pasti kalian suka.

Karena sejatinya, Pasar Kayu Muntilan bukan sekadar ruang transaksi, melainkan simpul kehidupan yang menyimpan cerita tentang kerja keras, kearifan lokal, dan denyut ekonomi rakyat.
Di antara aroma kayu dan suara tawar-menawar, kita belajar bahwa sebuah kota tumbuh dari tangan-tangan yang setia pada tradisi sekaligus terbuka pada perubahan. Mengunjungi Pasar Kayu Muntilan berarti menyelami wajah Muntilan yang apa adanya. Sederhana, hidup, dan penuh makna.
Sebuah pengalaman yang pastinya, layak dikenang dan diceritakan kembali ke sanak saudara dan handai taulan.
Setelah puas menyusuri Pasar Kayu Muntilan, kami ingin rehat sejenak. Sholat, ngopi, dan sedikit ngemil sebagai dessert setelah makan siang di Warung Sop Empal Bu Haryoko.
Ngopi dimana? Stay tune terus ya…ikuti perjalanan saya dan teman-teman menyusuri Muntilan.




Add comment