Halo teman-teman, ini adalah postingan pertama setelah Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin ya. Saya mau cerita tentang perjalanan saya ke Bandung pada 1 April 2026 lalu. Kereta Parahyangan Fakultatif yang saya tumpangi terdampak KA Ciremai anjlok. Perjalanan kami terhenti. Ketika ada kereta anjlok seperti yang saya alami, lantas nasib penumpangnya bagaimana? Yuk ikuti cerita saya.
Buat kalian penggemar perjalanan kereta, kalian bisa lihat review saya disini:
- Review Kereta Api Mataram New Generation
- Review Kereta Api Argo Merbabu Tambahan
- Review Kereta Api Kutojaya Utara dan Cara Memilih Kursi
- Bandung ke Serpong naik kereta api, caranya bagaimana?
- Bandung ke Bogor naik kereta api?
- Cara beli tiket ETS Malaysia dengan Kartu Debit Indonesia
- Cara Naik Kereta dari Bandung ke Rangkasbitung buat yang mau ke Baduy
- Review Argo Cheribon kelas Eksekutif
- Lokasi Stasiun Malang yang baru
- Review kereta api Malabar Bandung-Malang
- Perbedaan Stasiun Pasar Senen dan Stasiun Gambir
- Review Stasiun Banjar, Stasiun Terakhir menuju Pangandaran
- Review Kereta Api Pangandaran
- Review Lengkap Argo Parahyangan Ekonomi
- Review Gerbong Eksekutif Baru Argo Parahyangan
- Semarang ke Pekalongan naik Kereta
- Review Kereta Api Argo Parahyangan Premium
- Perjalanan Bandung Yogyakarta dengan Kereta Api Turangga
- Bandung Purwokerto dengan KA Serayu
Semua bermula dari Hujan yang tak kunjung reda
Saat itu saya sedang berada di kereta makan. Saya menunggu pesanan saya sambil membaca buku lama berjudul Akar, karya Dee Lestari. Sekitar sepuluh menit kemudian, pesanan saya sampai. Bakso enak dan Air mineral.


Saya pun menghentikan bacaan saya untuk sementara. Berganti dengan menyantap makanan sembari menatap ke luar jendela. Kala itu, saya menyadari rintik hujan kini semakin pekat.
Ia yang semula hanya berupa rinai hujan, dalam sekejap berubah menjadi air yang ditumpahkan dari langit. Kecintaan saya terhadap hujan berhasil menghentikan rasa lapar saya untuk sementara.
Mata saya menatap ke luar, menikmati guyuran air yang membasahi bumi, dan percikannya tersisa di jendela kereta berupa titik-titik laiknya embun pagi.
Di jalan yang terdapat perlintasan dan palang kereta, terlihat banyak pengendara motor yang kehujanan. Mereka terpaksa berhenti demi mempersilakan kami lewat.
Saat kereta Parahyangan Fakultatif melewati Stasiun Cikampek, hujan bertambah deras. Dari jendela kereta, saya melihat kini pemandangan di luar sudah diselimuti kabut. Jarak pandang pun terbatas.
Dalam hati saya berucap, semoga keadaan di depan sana baik-baik saja.
Jalur Kereta Jakarta ke Bandung: Menawan, sekaligus Mengancam
Buat kalian yang pernah melewati jalur kereta Jakarta menuju Bandung, pun demikian sebaliknya, mungkin kalian akan sepakat dengan saya. Bahwasanya jalur ini memiliki dua sisi mata uang.

Sisi pertama adalah jalur dengan panorama memukau sepanjang Purwakarta menuju Bandung. Sementara sisi lainnya, jalur ini berada di tengah hutan, berkelok-kelok banyak tikungan, dan beberapa diantaranya, adalah daerah rawan longsor.
Tak terasa, kereta Parahyangan sampai di Stasiun Purwakarta. Namun, hingga saya selesai makan, kereta tak kunjung beranjak dari stasiun ini. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Gerbong tempat duduk saya.
Saat saya menghempaskan pantat ke kursi, bel pengumuman berdentang.
I’m not feeling good. Demikian perasaan saya.
Ternyata benar saja.
Kereta Parahyangan tidak bisa melanjukan perjalanan karena terdampak kereta Ciremai yang lokomotifnya menabrak longsoran dan mengalami anjlok.
Lokasi anjloknya tak jauh dari stasiun Purwakarta, tepatnya di depan terowongan Sasak Saat, Purwakarta. Demikian penjelasan dari Kondektur Kereta.
Lihat detailnya disini:
KA Ciremai Anjlok, Penumpang KA Parahyangan Fakultatif Dipindahkan dengan Menggunakan Bus
Selanjutnya, kondektur mengumumkan bahwa penumpang akan dialihkan ke Bus yang disiapkan oleh KAI, dan diantarkan ke Stasiun tujuan akhir, Bandung.
Sembari menunggu bus ini, kami diperbolehkan turun sejenak di Stasiun Purwakarta dan jajan di sekitar stasiun. Asalkan, masih bisa terdengar pengumuman.
Sedangkan untuk penumpang yang tidak ingin melanjutkan perjalanan dengan bus jemputan KAI, dipersilakan untuk melakukan pembatalan kereta ke loket atau melalui KAI Access. Dana akan dikembalikan 100% dalam jangka waktu 3×24 jam ke rekening masing-masing.
Meski keadaan menjadikan jadwal saya molor jauh dari yang semestinya, tapi saya nyaman saja. Karena saya tahu, KAI pasti akan bertanggung jawab.
Saya duduk tenang di seat, sambil meneruskan bacaan saya. Sesekali, saya mengirimkan chat ke kawan-kawan di Bandung, mengabarkan kalau saya akan terlambat.
Segitu percayanya saya dengan KAI, dibandingkan maskapai penerbangan. Kalau terjadi keterlambatan pesawat, saya belum tentu bisa setenang ini. Karena saya tahu, biasanya sih kita akan terlantar di bandara berjam-jam tanpa kejelasan.
Saat saya mengabarkan kondisi saya ke Rasyid, teman saya di KAI, dia malah kaget ada kereta anjlok. Dia bertanya, “Belum ada beritanya mbak KA Ciremai Anjlok.” Saya jawab, “Lha ini aku yang kasih berita. Aku penumpang terdampak.” Real time banget kan…
Penumpang Selalu Dikabari Status Jemputan
Anyway, saya nggak bosan sih menunggu, sampai akhirnya pengumuman di kabin berkumandang lagi, kalau Bus jemputan sudah bertolak dari Bandung, dan kurang lebih 45 menit lagi bus sampai di Stasiun Purwakarta.
Ternyata, tidak sampai 45 menit, Bus sudah siap menjemput kami. Totalnya ada 7 bus pariwisata.
Busnya cukup bagus, ber-AC, mulus, meskipun kursinya duduk tegak dan sempit.
Tidak apa-apa lah, pikir saya. Yang penting sampai Bandung dengan selamat. Malah, saya berpikir kami dapat bonus tur keliling kota Purwakarta.
Lihat Perpindahan Penumpang disini:
Lama Perjalanan dari Bandung ke Purwakarta
Perjalanan dari Bandung ke Purwakarta ditempuh kurang lebih 1,5 jam. Hujan deras dan angin kencang di sepanjang perjalanan memaksa supir bus untuk berhati-hati saat berkendara di jalan tol. Ditambah, kondisi jalan macet saat kami mau masuk tol Pasteur.
Selama perjalanan di bus juga saya tidak bosan karena memiliki teman duduk yang menyenangkan. Menjadi teman seperjalanan yang senasib dan sama tenangnya dengan saya.
Meskipun, ada saja ibu-ibu rese di sebelah saya. Saat kondektur memberikan air mineral dalam kemasan, ibu itu mengambilnya dan estafet ke belakang.
Ibu-ibu Rese sebagai “variabel” tidak terduga dalam perjalanan
Saya mau membantu tapi ibu itu terus mengambilnya dengan grasa-grusu dan bersikap tidak ramah terhadap saya. Ya sudahlah, saya mengalah. Akhirnya saya ngobrol lagi dengan teman sebelah.
Tiba-tiba ibu itu menggertak, “Ini nih orang muda enak banget ngga mau kerja. Saya terus yang kerja!”
Saya berhenti ngobrol sejenak. Berbeda dengan dulu jika ada orang yang rese ke saya lalu saya diam, kali ini saya tatap matanya dengan tenang, lalu saya tanya balik. “Siapa yang nggak mau kerja bu?” tanya saya sopan.
“Kamu tuh dari tadi ngobrol terus. Saya yang kerja.” Kata ibu itu ketus.
Saya jawab, “Kalau begitu sini saya yang kerja, dari tadi kan ibu nggak kasih saya kesempatan untuk sekedar pegang botolnya. Jangan mengada-ada ya bu mengatai orang. Sudah, Ibu diam saja kalau capek, biar saya yang masih muda yang kerja. Nggak masalah buat saya.” Kata saya tenang, sambil tak lepas menatap mata ibu itu.
Ternyata si ibu mengkeret melihat tatapan mata dan juga jawaban tenang dari mulut saya.
Setelahnya, saya mengisyaratkan ke penumpang yang duduk di depan saya agar memberikan botol air mineral itu ke saya saja. Biar nggak ribet.
Menurut saya, tidak ada seorangpun yang boleh mengatai saya di luar fakta, apalagi sampai berteriak begitu hingga penumpang lain melihat ke arah saya. Saya bukanlah gadis lugu yang iya-iya saja saat diusik oleh sembarang orang. Sekalipun, dia lebih tua dari saya.
Penumpang di sebelah saya, teman seperjalanan saya dari Purwakarta tersenyum. Dia berbisik pada saya, “Keren Kak. Kelass…Kalau aku pasti ngga berani.” Desisnya.
Saya tersenyum. Saya terlalu sayang pada diri saya sendiri, dan mengerti value saya. Dan saya tidak akan pernah mengizinkan siapapun mengusik saya, apalagi berteriak pada saya di depan umum.
Ah, dalam setiap perjalanan, ada saja cerita tak terduga ya. Saya pun heran, kenapa detak jantung saya normal terus sampai saya tiba di Kota Bandung.
Sampai di Stasiun Bandung Pukul 18.10 WIB
Kala senja sudah lepas dari peraduannya, dan gelap menyelimuti malam, juga hujan rintik-rintik yang hampir mereda, tibalah kami di Stasiun Bandung.
Prama dan Prami sudah siap membantu kami. Meminta maaf sambil menjawab aneka pertanyaan kami. Memberikan sentuhan pelayanan prima dari manusia, bukan permintaan maaf dengan bot otomatis. Menghangatkan hati manakala raga telah lelah berganti-ganti moda transportasi.
Dari informasi yang saya dapat malam itu, ternyata semua kereta dari Jakarta menuju Bandung pun demikian sebaliknya, juga Jalur Bandung-Semarang dan sebaliknya, mengalami gangguan.
Service Excellent Kereta Api Indonesia
Entah berapa banyak penumpang yang terdampak, juga kerugian KAI saat itu. Tapi saya sebagai penumpang KAI, tetap percaya pada institusi yang satu ini. Kalau mereka selalu punya SOP pelayanan yang cepat tanggap, dan solutif dengan memberikan kepastian kepada penumpang.
Waktu tempuh memang menjadi lebih lama, tapi tak mengapa, karena buat saya kepastian itu penting.
Disadari maupun tidak, kami mendapat bonus April Mop dari KAI. Sebuah momen yang dirayakan oleh banyak orang hari itu.
Perbandingan KAI dengan Layanan Kereta di Malaysia
Menurut saya, pelayanan KAI jauh lebih baik daripada Kereta di Malaysia yang pernah saya tumpangi.
Saat itu dalam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Ipoh, dan sebaliknya, saya mengalami keterlambatan kereta selama lebih dari 2 jam. Katanya karena gangguan sinyal sehingga terpaksa berhenti di tengah jalan.
Ceritanya bisa dibaca disini.
Total waktu terbuang di perjalanan mencapai 5 jam. Tapi tidak ada permintaan maaf dari staf secara langsung. Tidak ada penjemputan, tidak ada snack yang diterima penumpang. Kami penumpang dibiarkan menunggu begitu saja, tanpa ada fasilitas toilet maupun restorasi. Menahan lapar dan haus sepanjang perjalanan.
Setidaknya Ketika negeri ini terus menerus mengabarkan hal buruk, kami masih mendapatkan pelayanan baik di tengah peristiwa buruk dari Kereta Api Indonesia.
Juga, senyum saya mengembang Ketika melihat Asri yang sudah duduk di bawah pohon beringin depan Stasiun Bandung. Sahabat saya yang siap menjemput di Stasiun.
Kami segera ke tujuan utama. Tjuanki Stasion.
Nanti saya cerita tentang Tjuanki legendaris ini.
Post Terbaru:
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma
- Cara Menanyakan Fee Ke Pembicara, Bagaimana Sih Baiknya?




Add comment