My Job

My Job

“Mbak, sebenernya kerjaan mbak tuh apa sih?”
Pertanyaan yang satu ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan setelah, “Mbak sudah menikah?”
Kalau saya disuruh menjawab, pastinya saya terdiam untuk beberapa jenak. Lebih sulit menjawab pertanyaan tentang pekerjaan daripada menjawab soal status pernikahan. Serius deh…Pekerjaan saya sebenarnya sederhana. Tapi karena banyak dan dimana-mana eksis, makanya seringkali bikin orang bingung.
Jangankan orang lain. Mama dan Bapak saya juga bingung anaknya kerja dimana. Jam sembilan ada di Bandung, jam dua belas di Jakarta, jam empat sore sudah di Medan, esok pagi sudah di Jakarta lagi. Lanjut ke Ambon dan seterusnya. Tahu-tahu, besok lusa pagi-pagi sudah berada di kelas. Bingung, kan?
Well…di blog pribadi saya ini saya akan jelaskan pekerjaan saya. Semacam curriculum vitae detil, tentang riwayat pekerjaan. Saya peringatkan sebelumnya, kalau postingan saya ini panjang banget.
Butuh ketelatenan buat membacanya. Itupun kalau kalian mau baca 🙂
 

Pekerjaan Utama: Staf Ahli Sistem Informasi (Data Analyst) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

Disebut pekerjaan sambilan sebenarnya tidak tepat juga, soalnya saya boleh dikatakan bekerja full time disini. Bahkan melebihi jam kerja orang normal. Pekerjaan saya yang pertama adalah sebagai Staf Ahli Sistem Informasi (Data analyst) di bagian Perencanaan, Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Seiiring berjalannya waktu, program dan proyek yang saya kerjakan bersifat sequence, atau berkelanjutan. Mulai dari membuat perencanaan strategis, mencakup perencanaan karier dosen dan tenaga kependidikan di 88 PTN dan sekitar 3600 PTS di Indonesia, membuat pangkalan data dosen dan tenaga kependidikan seluruh Indonesia, pemutakhiran data dosen dan tenaga kependidikan seluruh Indonesia (disini saya harus memeriksa ratusan ribu dokumen dan data setiap harinya), membuat SIPKD (Sistem Informasi Penilaian Kinerja Dosen), PAK (Penilaian Angka Kredit Dosen), dan akhirnya terintegrasi menjadi SISTER (Sistem Informasi Terintegrasi) dosen dan tenaga Kependidikan.
Setiap akhir tahun selama tahun 2009-2013, saya juga terlibat menjadi konsultan untuk LAKIP (Laporan Kinerja Institusi Pemerintahan) Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Ditjen Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Diktendik). Lakip tersebut merupakan dokumen laporan tahunan yang mencakup data dan program yang telah dikerjakan tim saya, juga tim lain di Diktendik.
Tugas saya adalah mengumpulkan program, merangkai setiap laporan kegiatan per Direktorat, untuk menjadi satu kesatuan. Tentu saja saya tidak sendiri mengerjakannya. Saya bersama dengan beberapa profesor dari UGM, ITB, IPB, UI, dan Politeknik Negeri Bandung.
Para profesor ini yang memberikan arahan, sementara saya dan 4 orang lainnya dalam tim bertugas untuk menterjemahkan ke dalam bahasa laporan yang mudah dipahami dan mudah dibaca. Terutama visualisasi dan interpretasi data, juga tingkat ketercapaian keberhasilan program. 
 Gedung D Dikti Kemendikbud
 

Deskripsi Pekerjaan

Dikti selalu punya program yang disosialisasikan ke seluruh Perguruan Tinggi setiap tahunnya. Dan saya bertugas mengajar para Rektor, Pembantu Rektor, Direktur, Profesor/Guru Besar, staf pengajar (dosen), juga Tenaga Kependidikan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta seluruh Indonesia.
Materi yang saya sampaikan adalah tata cara bagaimana Perguruan Tinggi dapat mengembangkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, baik melalui Rencana Strategis Perguruan Tinggi, Pemutakhiran data Dosen, Perencanaan Beasiswa, Evaluasi Kinerja Dosen, maupun Integrasi sistem informasi antar direktorat.
Pokoknya semua berkaitan dengan pengembangan Dosen dan Tenaga Kependidikan, dengan tujuan meningkatkan pendidikan, kemampuan, dan kompetensi Dosen.
Selain mengajar, saya juga menginput data ke dalam sistem informasi, memastikan data dari Perguruan Tinggi masuk tepat pada waktunya, mengolah dan menganalisis data sehingga dapat menjadi sebuah informasi, dan pada akhirnya data tersebut dijadikan landasan kebijakan Presiden Republik Indonesia dalam penetapan anggaran (APBN) pendidikan di tahun yang akan datang. 
Pekerjaan ini memungkinkan saya untuk mengelilingi Indonesia tercinta tanpa mengeluarkan uang sepeser pun untuk transportasi dan akomodasi.
Sekilas memang menyenangkan dan mudah, bukan? Tapi kenyataannya, pekerjaan kami berat. Tim kami hanya segelintir, sedangkan kami harus mengurusi seluruh Indonesia. Tidak tidur, kelelahan, overload, adalah makanan biasa buat kami Tim Dikti.
Tapi demi negara, apa sih yang nggak? 
Kota Lhokseumawe
Universitas Cenderawasih, Jayapura
Pekerjaan ini juga memberikan saya pengalaman yang sangat berharga, yang tak bisa tergantikan dengan uang sebanyak apapun. Pengalaman saya yang utama adalah, ketika saya harus berhadapan dengan banyak orang.
Berdiri di depan ratusan orang terdidik dan berkedudukan tinggi di negeri ini, Dari Aceh hingga Papua. Padahal usia saya masih sangat muda saat itu. Saya dituntut untuk beradaptasi cepat.
Beda suku, tentunya beda penanganan. Beda cara penyampaian. Awal-awal saya sempat merasa stress, karena pada minggu pertama saya menghadapi orang Jawa, minggu berikutnya saya menghadapi orang Ambon, selanjutnya saya menghadapi orang Medan, Kalimantan, Palembang, dan Papua.
Semuanya punya ciri khas tersendiri. Dan saya benar-benar blank dengan budaya mereka. Pepatah Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung adalah pedoman utama saya setelah berdoa pada Allah SWT. Saya banyak belajar, sehingga akhirnya menemukan metode mengajar yang tepat. 
Jika yang saya hadapi adalah orang yang masih muda, maka saya perlakukan mereka sebagai teman.
Jika yang saya hadapi adalah ibu-ibu atau bapak-bapak, saya memposisikan diri saya sebagai seorang anak.
Jika yang saya hadapi adalah orang yang sudah senior, maka saya memposisikan diri sebagai cucu mereka. Logikanya, setinggi apapun posisi mereka di Perguruan Tinggi, mereka pasti akan luluh pada cucunya, bukan? Begitupula jika saya memposisikan diri sebagai anak, atau sebagai teman.
Akan banyak sekali pemakluman yang saya terima dari mereka. Jika saya salah, mereka akan menjelaskan kebenarannya tanpa harus memarahi saya. Selain itu, penjelasan yang saya sampaikan akan mudah diterima dengan lapang dada. Mereka tak merasa gengsi dan digurui oleh saya. Itulah kuncinya beradaptasi.
Apapun sukunya, darimanapun mereka berasal, kalau porsi dan cara berkomunikasinya tepat, maka akan mujarab. Alhamdulillah, hingga saat ini saya masih menjalin hubungan baik dengan semuanya.
Saya jadi punya banyak teman, sahabat, bahkan saudara, di seluruh nusantara. Intinya, jika saya pergi ke suatu tempat di Indonesia, saya takkan takut tersesat. Karena dimanapun bumi dipijak, ada orang yang saya kenal.
Disaat saya mengalami kelelahan tingkat tinggi, Jet lag disorder karena dalam satu minggu bisa empat kali penerbangan dengan destinasi dan waktu yang berbeda, jauh dari keluarga, merelakan masa muda dengan teman-teman sebaya, hiburan saya yang utama adalah, paling tidak saya bisa berarti buat Bangsa Indonesia.
Negara yang sangat saya cintai dan saya banggakan, apapun keadaannya. Negeri tempat saya lahir yang harus saya bela dan saya baktikan.
Perjuangan tak harus dengan berkoar-koar di depan gedung DPR, bukan? Saya, berusaha menepati janji almamater juga janji saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia, untuk dapat memberikan sumbangsih pada Bangsa ini. Dengan mengamalkan ilmu yang saya punya. Dengan tenaga dan effort sebesar-besarnya.
Tahun 2014-2016 saya sabbatical untuk melanjutkan sekolah S2. Namun begitu saya lulus di Desember 2016, Dikti yang kala itu telah berubah menjadi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, memanggil saya kembali untuk segera bekerja menjadi Staf Ahli Monitoring dan Evaluasi Program di Direktorat Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Dit Iptekdikti).
Sebagai kelanjutan atas pekerjaan yang pernah saya kerjakan sebelumnya. Saya pun melanjutkannya selama kurang lebih 4,5 tahun. Dari Januari 2017-Maret 2021. Saya masih terbang keliling Indonesia dalam pekerjaan ini, namun tidak sepadat sebelum tahun 2014.

2014-2016: Sabbatical Dari Dikti Untuk Menempuh Pendidikan S2

Tahun 2014-2016, saya memutuskan untuk sabbatical, atau break sementara dari Dikti. Pekerjaan ini tidak bisa saya kerjakan jika saya sambil kuliah S2. Tahun 2013 saya pernah mencobanya, mengikuti matrikulasi S2 di MSM SBM ITB. Namun karena jadwal kerja saya yang padat, akhirnya saya tidak bisa mengelola waktu dengan baik.

Pekerjaan saya membutuhkan mobilisasi tinggi, sementara SBM ITB tidak memperbolehkan mahasiswanya kuliah sambil bekerja, sehingga absensi saya pun jebol, dan nilai saya berantakan. Saya pun gagal untuk masuk MSM ini.

Saat itu ada pilihan lain, saya ditawari untuk melanjutkan di program studi yang berbeda, yaitu Teknik Industri, atau Manajemen Kebencanaan di UGM. Bahkan profesor UGM yang juga adalah kolega saya di Dikti bersedia memberikan rekomendasi penuh agar saya dapat beasiswa di program studi Manajemen Kebencanaan tersebut.

Tapi saya tidak mengambil kedua tawaran itu, karena terlalu jauh dari bidang studi yang saya tekuni dari diploma dan S1, yaitu bidang Pemasaran. Saya takut tidak bisa maksimal, atau bahkan tidak mampu mengikuti perkuliahan dengan sepenuh hati.

Akhirnya di tahun 2014 saya mendaftarkan diri ke program magister ilmu manajemen, Universitas Padjadjaran. Saya bahkan menyiapkan berkas ujian di sela-sela penerbangan saya.

Saat itu, saya sering bolak-balik ke Banjarmasin dan Banjarbaru, sebagai kelanjutan dari pekerjaan saya di 2012 tentang pemetaan listrik 200 desa di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Sebuah proyek kerjasama PT PLN (Persero) dengan PT. Surveyor Indonesia.

Saya membayar pendaftaran Unpad lewat ATM di Bandara Soekarno Hatta, lalu mengirimkan proposal penelitian dari hotel yang saya tempati di Banjarbaru. Hati saya berdebar tentu saja. Apakah persiapan saya yang seperti koboi ini akan memberikan hasil yang bagus?

Tapi penolakan demi penolakan yang saya alami sebelumnya ternyata menguatkan saya. Kalaupun proposal saya dianggap tidak cukup, atau Unpad menolak saya seperti ITB, ya saya bisa coba lagi tahun depan. Demikian pikir saya.

Sementara itu, setelah mengirimkan proposal di malam hari dari hotel di Banjarbaru, saya melanjutkan pekerjaan saya, dari klien baru. Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Tapin Tengah, Kalimantan Selatan.

Mereka mengirimkan email kepada saya yang saat itu tinggal di Bandung. Saya diminta untuk mengukur indeks kepuasan pelanggan mereka, untuk dijadikan rekomendasi strategis proses bisnis dan alur pelayanan di kantor tersebut.

Saya disini bertindak sebagai pimpinan proyek, namun masih dalam pengawasan Atasan juga mentor saya, Prof. Conny K. Wachjoe. Saya kerjakan tugas itu sepenuh hati, dibantu oleh tim saya di Kalimantan Selatan, yang pernah membantu saya memetakan 200 desa di pedalaman pulau tersebut.

Hasilnya, klien puas dan saya pun bahagia melihat hasil pekerjaan saya bisa memberikan dampak yang signifikan buat kemajuan kantor urusan pelayanan terpadu tersebut. Tidak lama berselang, saya mendapatkan email dari Universitas Padjadjaran, kalau saya diterima sebagai mahasiswa program magister ilmu manajemen.

Berbeda dari ITB yang meminta mahasiswanya untuk resign dari pekerjaan, Unpad justru melakukan dialog bersama kami, mahasiswanya. Pihak kampus mengizinkan mahasiswa S2 tetap bisa berkarya, karena mereka mengerti, sebagian besar mahasiswa magister adalah orang yang telah bekerja dan memiliki tanggung jawab tinggi, sehingga tidak mudah melepaskan pekerjaan begitu saja. Profesor kami saat itu mengatur jadwal, kami kuliah full Senin dan Selasa. Sisanya, bisa fokus mengerjakan tugas mandiri atau berkarya di luar.

Saat saya kuliah di Unpad, saya tidak bisa kerja secara fulltime. Sehingga untuk bertahan hidup dan biaya kuliah, saya mengajar di Politeknik Negeri Bandung sebagai dosen praktisi, mengerjakan proyek sebagai data benchmarking expert di PT. Pertamina Bandung Group, dan PT. Pertamina Region III, menjadi Consultant Community Development Expert di PT. Indonesia Power Geothermal Kamojang-Darajat Garut dan PT. Pertamina TBBM Cikampek.

Selain itu juga mendirikan dua institusi pendidikan tinggi negeri. Politeknik Negeri Media Kreatif Medan, dan Politeknik Negeri Media Kreatif Makassar. Pendirian institusi ini bukan tanpa sejarah, karena sebelumnya di tahun 2007, di awal karier saya, saya pernah menjadi asisten ahli akademik Tim Revitalisasi Pusat Grafika Indonesia menjadi Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, atas penugasan dari Sekretaris Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Jadi sebenarnya meskipun sabbatical dari Dikti, selama 2014-2016 saya tidak pernah berhenti bekerja dan kuliah. Saya pun lulus dan diwisuda sebagai wisudawan terbaik dengan IPK tertinggi, 3,93 dengan gelar Pujian dan Summa Cumlaude.

Pekerjaan Kedua

Konsultan Energi Baru dan Terbarukan, Konservasi Energi, dan Kelistrikan
Me and my wearpack
Posisi saya saat ini adalah sebagai Public Relation, Community Development Expert, sekaligus Project Coordinator di PT Lapi ITB. Awalnya saya adalah project officer sejak tahun 2006-2009. Setelahnya saya pindah ke Dikti. Namun tahun 2011, saya kembali bekerjasama dengan PT. Lapi ITB dengan sistem kontrak per project.
Biasanya saya yang bertugas sebagai penyelia antara perusahaan dengan klien. Juga perusahaan dengan para tenaga ahli. Saya yang mengatur jadwal survey, mobilisasi tim, pelaporan, dan juga editing laporannya. Jadi sejak 2006 saya telah terbiasa mereview ribuan halaman dokumen setiap harinya, yang ternyata masih berlangsung hingga saat ini. Kalau dahulu saya mereview dokumen proyek, sekarang saya mereview tugas mahasiswa.
Pada tahun 2008, saya pernah menulis dan membuat profil energi di Cianjur Selatan. Profil ini berisi tentang lokasi, letak geografis, kependudukan, potensi energi yang ada, juga ketersediaan energi yang memungkinkan untuk dijadikan pembangkit. 
Saya biasa bekerja untuk Pertamina, Dinas Pertambangan dan Energi, Kementerian ESDM, juga PT. PLN (Persero).
Tak jarang saya harus turun langsung ke lapangan. Membaur dengan penduduk setempat supaya tahu pasti keadaan yang sebenarnya di lapangan.
Apa yang mereka butuhkan (khususnya pasokan dan ketersediaan listrik) serta akses jalan. Selain itu, sesekali juga saya turun ke field. Baik itu Pertamina maupun PLN untuk melakukan proses audit energi.
Saya harus mengenakan seragam khusus untuk dapat memasuki area tersebut. 
Bersama Tim PT. LAPI ITB dan Pertamina 
(SP. Pondok Tengah, Bekasi)
Pekerjaan ini juga memungkinkan saya mengelilingi Indonesia. Khususnya daerah pedalaman. Mengenal kebiasaan masyarakat setempat, mengenal budaya dan khasanah Bangsa Indonesia yang ternyata, sungguh kaya raya dengan keanekaragaman. 
Pekerjaan ini yang mengimbangi hati saya antara kalangan atas, dengan kalangan bawah. Kalau di pekerjaan utama saya selalu dapat fasilitas nomor satu. Penerbangan kelas satu. Maskapai kelas satu.
Menginap di kamar suite di hotel bintang 4 atau bintang lima, makanan olahan chef terkenal, dan restaurant kelas satu, Di pekerjaan ini saya dapat fasilitas apa adanya. Makan di warung warga, jalan kaki, menginap di gubuk, mandi di sungai, dan berkutat dengan kotoran sapi untuk memetakan potensi biogas sebagai bahan baku listrik.
Pekerjaan konsultan ini tidak hanya dengan PT. Lapi ITB, tetapi juga dengan lembaga lain seperti PT. Surveyor Indonesia di Banjarbaru, dan PT. PLN Persero wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Saya melakukannya di sela-sela jeda saya sebagai staf ahli di dikti. Hal yang paling memukau saya adalah pada saat saya bertugas di pedalaman Cianjur untuk memetakan potensi energi tenaga listrik dan Pedalaman Kalimantan untuk memetakan jaringan listrik di 200 desa. Setiap harinya saya harus terjun ke lapangan, menyambangi desa demi desa, memetakan jaringan listriknya, dan mengolah datanya. Biasanya setelah long trip dan perjalanan survey lapangan yang panjang, saya akan ngebut merangkum ribuan data menjadi 180 halaman profil kelistrikan desa yang terpaksa harus saya kerjakan dalam satu malam.
Di pedalaman tersebut saya hanya dibekali alat manual berupa telepon satelit dan GPS Garmin. Tahun 2008 dan 2012 belum ada AI atau teknologi GPS modern. Sinyal pun masih sangat jarang, dengan rasio elektrifikasi Jawa barat saat itu masih sekitar 69%, dan kalimantan selatan masih 49-59%.
Bercengkrama dengan penduduk Desa Karya Maju, Kalsel.
Tapi buat saya, sama menyenangkannya. Karena lagi-lagi, paling tidak saya bisa menorehkan arti buat bangsa ini. Saya tidak kaget dengan pekerjaan ini karena pada 2006, di awal saya bekerja setelah menyelesaikan studi di Politeknik Negeri Bandung, saya telah bekerja sebagai project officer di PT. Lapi ITB.
Pekerjaan saya adalah memobilisasi tim, menyiapkan tiket keberangkatan, akomodasi, keuangan, petty cash, negosiasi dan korespondensi kepada klien dan stakeholder sebelum tim datang ke lokasi, dan bahkan beberapa kali saya harus terjun langsung bernegosiasi dengan klien untuk mendapatkan data primer.
Hal ini saya lakukan di Manado, Minahasa, Tomohon, dan Pulau Sebira. Bahkan saya pernah menempuh perjalanan dari Pelabuhan Marina Jakarta Utara ke Pulau Sebira (Ujung Kepulauan Seribu) dengan menggunakan boat selama 6,5 jam, untuk bisa mengawasi pekerjaan pemasangan solar cell di pulau terpencil tersebut, di Desember 2006.
Sedangkan 2007-2009, pekerjaan saya adalah berfokus menyiapkan proyek, dengan menyusun dokumen tender seperti pre-qualification document, Dokumen RFP, RFQ, korespondensi. Saya berhasil membuat perusahaan mendapatkan peringkat 1 atau minimal 3 besar dari penyiapan dokumen ini di awal project. Sebelum akhirnya saya keluar di 2009 karena Dipanggil negara untuk menjadi staf ahli perencanaan strategis perguruan tinggi.

Pekerjaan Sambilan Pertama

Travel Blogger di arumsilviani.com dan Penulis lepas di www.Inindonesiaku.com

Dari sekian banyak perjalanan saya, biasanya saya abadikan dengan foto dan tulisan. Nah, tulisan-tulisan ini awalnya saya tulis di blog pribadi. Namun lama kelamaan, seorang teman menyarankan agar saya menuliskannya di media resmi. 

Supaya lebih banyak dibaca orang dan lebih banyak memberikan manfaat. So, buat anda yang ingin mengetahui betapa cantiknya Indonesia, anda bisa berselancar ke website di atas.

Saya juga pernah menerbitkan buku antologi cerpen berjudul, “Rihan, Duta Kecamatan Ibun” yang diterbitkan oleh Penerbit Sinar Pena Amala. Tulisan ini menang dan menjadi juara 1, karya terbaik dalam antologi tersebut. Ide ceritanya terinspirasi dari penugasan saya selama kurang lebih satu tahun di PT. Indonesia Power Kamojang-Darajat, Garut, Jawa Barat.

Pekerjaan Sambilan Kedua
Owner of Zhafira Boutique dan arumsilviani Boutique.
Deskripsi kerjaannya jelas, JUALAN. Mempraktikkan ilmu pemasaran yang saya dapat di bangku kuliah. Zhafira Boutique menyediakan aneka pakaian dan aksesoris muslimah, sedangkan arumsilviani Boutique menjual aneka kain nusantara, juga kebaya, gaun pesta, dan gaun pernikahan. Segmennya jelas, bukan?
Batik Papua
Songket Makassar
Disini saya juga mengamalkan ilmu marketing yang saya dapat di perkuliahan. Spesialisasi saya di Brand Personality dan Customer Service. Sehingga saya berharap saya bisa melayani para konsumen sampai mereka puas. InsyaAllah.
Kelak saya akan membekali diri dengan kemampuan menjahit, supaya saya bisa menangani pesanan secara langsung, tak bergantung pada orang lain.
Saya juga bisa mewujudkan desain yang saya buat dengan tangan saya sendiri. sehingga menjadi gaun indah dan pas di tubuh wanita Indonesia. Dengan mengusung keindahan kain nusantara.
Meskipun, di tahun 2013 zhafira boutique bangkrut. Saya masih melanjutkan jualan di luar zhafira dengan membuatkan pakaian pengantin dan engagement gown untuk sahabat terdekat saya, juga membuat kerudung sendiri untuk kemudian dijual. Sekedar menyalurkan hobby.

Pekerjaan Lainnya

Dosen Praktisi, atau dosen Luar Biasa di Jurusan Teknik Energi Politeknik Negeri Bandung dari 2010-2016.
Mata kuliah yang saya ampu adalah Kewirausahaan Berbasis Teknologi Energi. Saya memandu dan memberikan bekal pada para mahasiswa untuk dapat berwirausaha. Kelak, kalau mereka sudah punya bekal modal yang cukup, saya harap mereka bisa berwirausaha.
Karena pada dasarnya, wirausaha adalah pekerjaan yang dimuliakan Allah. Ditengarai, 10 dari 11 orang yang ditaksir masuk surga adalah pedagang. Selain itu, 9 dari 10 pintu rizki didapat dari berdagang. Mengajar mahasiswa buat saya sudah mendarah daging. Melekat dalam hati, merasuk sukma.
Presentasi di Kelas
Belajar Jadi Technopreneur
Kalau boleh jujur, diantara semuanya, pekerjaan inilah yang paling saya cintai.
Selelah apapun tubuh ini, seruwet apapun pikiran ini, jika saya sudah berdiri di depan kelas, menatap para mahasiswa, semua kelelahan dan keruwetan pikiran saya hilang seketika.
Lenyap tak berbekas. Saya tak bercanda soal ini. Sungguh. Pekerjaan menjadi dosen adalah pekerjaan yang sangat saya cintai.
Saya tak mengejar uang tentu saja. Karena dari pekerjaan lainnya alhamdulillah kehidupan saya terpenuhi. Tapi hati saya hanya bisa penuh jika saya ada di kelas.
Tak pernah hati ini keberatan jika mahasiswa saya minta bimbingan. Jam berapapun, dimanapun, sesulit apapun keaadannya, mereka adalah prioritas utama saya.
Tahun 2019, saya bergabung dengan Universitas Multimedia Nusantara sebagai dosen praktisi hingga saat ini (2026). Mata kuliah yang saya ampu Adalah Digital Marketing, Fundamental of Business, Brand Management, Introduction to Marketing, Marketing Management, Integrated Marketing Communication, Technopreneur, Human Resource Management, MICE, Digital Retail Management, Consumer Digital Behavior, dan ICT Business for Creative Industry.
Saya menjadi koordinator mata kuliah Digital Marketing, Integrated Marketing Communication, ICT Business for Creative Industry, Marketing Management, dan Digital Retail Management. Selama menjadi dosen praktisi, saya tidak hanya mengajar mahasiswa. Saya juga berkarya di luar melalui antasena projects. Menjadi pembicara dan juga konsultan untuk beberapa institusi pemerintahan diantaranya Bea Cukai Priok, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, Museum Geologi Bandung, Politeknik Negeri Bandung, beberapa UMKM lokal di Bandung dan Tangerang, Menjadi mentor bisnis di beberapa perguruan tinggi.

Mendirikan Antasena Projects di 2021

Saya mendirikan Antasena Projects bukan dengan aneka cita-cita. Tapi karena kliennya sudah ada, tapi wadahnya saya tidak punya. Akhirnya saya mengumpulkan sahabat-sahabat saya Bhekti, Ega, dan Feby. Kami adalah lulusan Politeknik Negeri Bandung jurusan Administrasi Niaga.

Antasena projects adalah penyedia jasa konsultansi dan pelatihan profesional, yang dilaksanakan online maupun offline, dengan lingkup sebagai berikut:

  • Keterampilan Mengetik 10 Jari untuk pemula
  • Konsultasi Strategi Bisnis untuk Perusahaan
  • Konsultasi Strategi Public Relations & Community Development Program untuk
  • Perusahaan & Institusi Pemerintah
  • Konsultasi Komunikasi Digital untuk Perusahaan, Institusi Pendidikan, dan Institusi Pemerintah
  • Pelatihan Digital Marketing untuk pemula & advanced untuk perusahaan/perorangan.
  • Pelatihan Kearsipan Perusahaan
  • Pelatihan Public Speaking

Pelatihan dan workshop di antasena projects didampingi oleh instruktur berpengalaman di bidangnya, berlangsung online maupun onsite, dan langsung praktik. Peserta juga akan diberikan tips dan trik pada setiap materi pelatihan. Kliennya mencakup institusi pemerintah maupun swasta.

Mudah-mudahan tulisan diatas menjelaskan apa sebenarnya pekerjaan saya. Banyak banget kan postingannya? Itulah yang membuat saya tak mudah menjelaskan pekerjaan saya pada orang lain.
 
Salam Cinta,
 
Arum Silviani
 

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

1 comment

Selamat datang di Rumah Arum,

Hai teman-teman, Arum Silviani disini. Saya adalah seorang travel blogger, Praktisi Digital Marketing and Communication, Founder Antasena Projects, dan juga Dosen di Fakultas Bisnis UMN yang suka traveling. Website yang berisi Info Traveling, Kuliner, dan Gaya Hidup yang Indonesia Banget! Disini kalian akan saya suguhi keindahan Indonesia, dari POV warga lokal.

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Advertisement

Small ads

Arum’s Archieve

Contact Me for Business Inquiry & Collaboration

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.