Hai, rekan-rekan semuanya, apa kabar? Kali ini tulisannya tidak tentang traveling dulu ya, tetapi saya lagi ingin cerita isi pikiran saya ke rekan-rekan semua. Mengenai tantangan dosen di dunia digital. Semoga kalian nggak bosan dengan cerita dari profesi yang satu ini. Buat kalian yang baru berkunjung, Perkenalkan saya Arum Silviani, Seorang Dosen dan Praktisi Digital Marketing dengan pengalaman lebih dari 14 tahun. Cerita saya tentang pengalaman mengajar saya tuliskan disini:
- Ketika Mahasiswa Bertanya, Lulus S1 Kerja Dulu atau Langsung Lanjut S2?
- Mengisi Podcast Digital Bisnis di ITB Press Bandung
- Mengajar Digital Marketing di Kelas Internasional
- Cerita Mahasiswa yang salah masuk kelas
- Cara menanyakan fee ke pembicara
- Menghadapi Mahasiswa yang minta nilainya dinaikkan
- Ketika dosen nyasar
- Cerita Awal Mula Jadi Dosen
- Tips dan Trik Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi
- Tips dan Trik Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi Part 2
Menara Gading yang tinggi, Tapi Tidak Membumi
Sebagai dosen tentunya saya sangat paham kalau tugas kami itu sangat banyak. Selain Tri Dharma Perguruan Tinggi, masih ada banyak beban administrasi yang tak kunjung henti. Seperti yang pernah saya ceritakan disini. Namun demikian, tantangan kita tak cukup sampai disitu. Bagaimana supaya cap menara gading ini bisa bermanfaat buat masyarakat?

Kita semua tentu tahu bahwasanya, dunia perguruan dan pendidikan tinggi seringkali disebut sebagai menara gading. Sebuah istilah yang menggambarkan menara yang megah dan berdiri kokoh, tinggi menjulang, namun kontribusinya ke masyarakat umum seringkali masih banyak dipertanyakan.
Namun sekarang, dunia sudah tidak sekaku dulu. Hal ini tentu saja menuntut kita sebagai akademisi untuk menjaga keseimbangan antara otoritas ilmiah, dan merangkul kreativitas konten.
Di ruang digital, media sosial bukan lagi sekadar tempat hiburan, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang publik untuk transfer ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, tantangan bagi seorang akademisi adalah membangun digital presence, dengan melibatkan proses kompleks yang disebut sebagai context collapse. Yaitu sebuah keadaan dimana audiens profesional dan masyarakat umum bertemu dalam satu platform yang sama.
Sehingga, muncul tantangan baru: bagaimana membuat orang paham dengan bahasa akademik, supaya kita tidak terlihat “dangkal” oleh rekan sejawat, tapi juga bisa “membumi” dan tidak menggurui di mata publik.
Tradisi Pengakuan Reputasi Akademisi Lewat Jurnal Ilmiah
Saya mencoba menarik ke belakang, asal-usul pengakuan akademisi di kancah ilmiah. Mulainya darimana dan kenapa dosen harus membuat jurnal?
Jadi secara tradisi, pengakuan reputasi seorang akademisi dinilai dari jurnal ilmiah yang dipublikasikan. Tujuannya adalah untuk mengabarkan pada dunia tentang penemuan dan pemikiran baru.
Tradisi ini dimulai pertama kali pada tahun 1665. Pada tahun tersebut, terbit dua jurnal pionir: Le Journal des Sçavans di Prancis pada tanggal 5 Januari, dan Philosophical Transactions of the Royal Society di Inggris pada tanggal 6 Maret. Sejak saat itu, otoritas akademis dibangun melalui publikasi jurnal tertutup.
Jurnal yang tidak sembarang orang bisa mengaksesnya. Jika hendak mengaksesnya pun, membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kini, zaman telah berganti. Di era serba terkoneksi ini, peran kita sebagai pengajar turut bergeser. Para ahli kini menyebutnya sebagai networked scholars, sosok yang tidak lagi nyaman berdiam di laboratorium, tetapi aktif turun ke ruang publik digital untuk menciptakan dampak nyata.

Masalahnya, niat baik saja tidak cukup. Karena di lapangan, realitanya tidak sesederhana itu. Ada benturan kepentingan yang seringkali membuat akademisi gamang. Kendala utamanya muncul saat akademisi harus menjembatani jarak dengan masyarakat luas.
Di titik ini, sering kali terjadi benturan kepentingan. Akademisi wajib menjaga kredibilitas formal yang kaku. Di sisi lain, mereka juga dituntut menyajikan konten yang menarik dan kreatif agar mudah diterima publik.
Antara Otoritas Ilmiah vs Kreativitas Konten
Otoritas Ilmiah mengacu pada validitas data, gelar, dan rekam jejak riset seorang akademisi. Sedangkan aksesibilitas mengacu pada kreativitas konten, yaitu kemampuan menyederhanakan berbagai istilah keilmuan, agar mudah dicerna tanpa mengurangi esensi kebenaran.

Namun, bagaimana sebenarnya kita membangun identitas di tengah keriuhan digital ini? Jika merujuk pada teori Social Media Honeycomb dari Kietzmann, identitas di media sosial dibangun melalui pengungkapan diri yang terukur.
Akademisi yang terlalu kaku akan kehilangan audiens publik, sementara yang terlalu fokus pada hiburan, berisiko kehilangan legitimasi di mata komunitas ilmiah.
Intinya, supaya bisa diterima masyarakat dan terlihat update, seorang akademisi harus bisa ngonten. Tapi ngonten-nya tetap memegang prinsip setia pada kebenaran ilmiah.
Hybrid Identity dan Personal Differentiation Branding Dosen di Dunia Digital
Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh akademisi adalah Hybrid Identity. Dalam dunia digital, istilah ini dikenal sebagai personal differentiation branding, yang dapat diadopsi untuk menyeimbangkan aspek otoritas dan kreativitas konten.
Hal tersebut sejalan dengan temuan Dr. Bonnie Stewart tentang konsep scholars digital identity, yang menyatakan bahwa pengaruh seorang akademisi di media sosial tidak hanya ditentukan oleh jumlah sitasi jurnal, tetapi juga oleh “kehadiran” dan kemampuan mereka dalam membangun jaringan secara manusiawi dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat.
Beberapa langkah kunci yang bisa dilakukan oleh akademisi dalam membangun digital identity yaitu:
Pertama, kita bisa membagikan hasil riset dengan format infografis atau video singkat yang mudah dipahami. Tidak perlu terlalu banyak informasi dalam setiap post. Kita bisa memecahnya menjadi bagian-bagian kecil.
Misalnya, ketika kita hendak membuat konten edukasi tentang Social Engineering, kita tidak perlu menjabarkan coding di balik itu, atau menggunakan bahasa textbook seperti phising, pretexting, atau Baiting.
Ganti dengan: penipu menyamar sebagai keluarga atau teman kantor (phising), penipu membuat kita panik atau merasa bersalah (manipulasi): "anak anda bisa di drop out jika tidak segera membayar uang sekolah." Selanjutnya eksekusi: penipu meminta anda memberikan kata sandi, pin atau data sensitif seperti nomor KTP, PIN, Nomor kartu ATM, dll.
Hal ini akan mempermudah audiens untuk memahami bahasa kita, karena relate dengan keseharian mereka.
Kedua, adalah menunjukkan sisi manusiawi kita sebagai manusia. Misal: kita bisa mengunggah proses di balik layar pada saat melaksanakan TriDharma Perguruan Tinggi.
Hal ini bertujuan untuk membangun kedekatan dengan audiens tanpa meninggalkan etika akademik dan membuka privasi terlalu berlebih (oversharing).


Hindari membuat konten yang keseringan mengeluh, menjelekkan sistem, mengobral privasi pribadi, rekan sejawat, mahasiswa, dan lain sebagainya. Karena hal itu hanya akan membuat kita kehilangan kredibilitas. Fokuskan kepada niat dan tujuan akademisi untuk sharing ilmu.
Ketiga, adalah memahami audiens dan gaya komunikasi setiap platform. Karena setiap platform punya karakteristik audiens yang berbeda, dengan gaya penerimaan terhadap konten yang berbeda pula.
Contohnya: untuk bahasa di LinkedIn bisa menggunakan formal-profesional, X/Twitter untuk diskusi kritis dan lebih casual, dan Instagram/TikTok untuk edukasi kreatif dengan bahasa yang membumi.
Lesson Learned:
Pada akhirnya, peran dosen di dunia digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk memastikan ilmu pengetahuan tetap relevan. Kita bisa menjadi pakar yang memiliki otoritas, namun tetap aksesibel secara kreatif.
Para akademisi juga terpaksa harus menantang algoritma, yang seringkali menghukum konten yang terlalu edukatif, dan mengutamakan konten yang emosional atau kontroversial di social media.
Tidak mudah memang, tapi kenyataan di dunia digital seringkali menjauhkan para akademisi dari rasa nyaman.
Karena dunia digital menuntut untuk selalu dapat berpikir cepat menghadapi dinamika perubahan dan disrupsi sosial. Sedangkan kebanyakan dari kita, butuh waktu berpikir dan meriset lebih dalam.
Tantangan menjadi akademisi adalah kita harus siap untuk menjaga marwah dan etika profesi, namun harus tetap bisa membumi.
Kalau kita terus-terusan mengurung diri di menara gading sambil mengeluh soal beban administrasi, jangan kaget kalau masyarakat lebih percaya influencer daripada gelar akademis yang kita punya.
Siapkah kita menghadapi dinamika ini, berikut dengan rumitnya birokrasi dan beban administrasi yang harus dijalani?
Jika anda adalah akademisi yang ingin belajar tentang bagaimana mendigitalisasi jurnal ilmiah menjadi konten kreatif, bisa hubungi alamat email disini.
Post Terbaru:
- Sehari di Kota Kinabalu, Kota yang Introvert Friendly!
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!




Add comment