Kali ini saya akan membahas cara komunikasi efektif dalam public speaking. Jadi ceritanya, saya baru saja menonton video di YouTube, yang sebenarnya siaran ulang sebuah launching produk. Di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya mempromosikan pentingnya membaca buku.
Jam Terbang Pembicara Tidak Bisa Dibohongi
Diantara para pembicara, semuanya adalah orang yang sangat aktif dalam membaca, memiliki intelegensia di atas rata-rata, dan pastinya sangat cerdas. Hanya saja, saat mereka berbicara, saya serasa capek sekali mendengarnya.
Bukan karena isinya, melainkan cara penyampaiannya yang terengah-engah, dengan nafas yang memburu, dan urutan penyampaian yang loncat-loncat atau tidak terstruktur. Sehingga isinya menjadi sangat sulit dipahami oleh audiens.
Padahal sebenarnya, kalau baca bahan presentasinya, itu adalah informasi yang sederhana. Tapi ketika mendengar pemaparan pembicara, malah jadi ruwet.
Ternyata yang berpikir demikian tidak hanya saya seorang. Banyak netizen yang berkomentar karena merasa terganggu dengan hal ini. Beberapa diantara mereka menyatakan bahwa, “Untuk menjadi seorang public speaker, jam terbang memang tidak bisa dibohongi.”
Ini sejalan dengan pemikiran saya, dimana menurut saya, untuk menjadi seorang public speaker yang mumpuni, experience matter. Sekeren apapun pengetahuan yang kita miliki, jika kita tidak berlatih berbicara, maka itu akan terlihat sekali dan bisa dirasakan oleh audiens.

Selanjutnya, kemampuan connecting the dots dalam keilmuan itu penting, namun cara penyampaian ke khalayak umum juga penting. Karena seluas apapun pengetahuan kita, jika kita tidak bisa menyampaikan dengan jelas dan membuat audiens paham, maka pengetahuan itu menjadi tidak bermakna.
Baca juga: Cara menanyakan fee ke pembicara dengan sopan
Mengenal The Curse of Knowledge
Seorang public speaker yang cerdas adalah dia yang mampu menyederhanakan pesan, sehingga informasi yang rumit bisa dicerna oleh audiens dengan jelas.
Meskipun demikian, kecerdasan tinggi tidak otomatis berbanding lurus dengan kemampuan bicara yang hebat. Well, kita bahas ya kenapa bisa seperti ini.
Tantangan seseorang yang cerdas adalah: dia seringkali berpindah topik bahasan dengan tiba-tiba. Karena isi kepalanya memang banyak dan kecepatan berpikirnya mungkin lebih cepat daripada kebanyakan orang biasa.
Fenomena ini kita sebut sebagai the curse of knowledge. yaitu sebuah bias kognitif di mana seseorang yang ahli dalam suatu bidang secara keliru berasumsi bahwa orang lain memiliki pemahaman yang sama, sehingga sulit menjelaskan informasi secara sederhana.
Baca juga: Mengajar Kelas Internasional di Universitas Multimedia Nusantara
Dalam Public Speaking, Bridging itu Penting!
Ketika bicara di depan khalayak umum, dimana kepentingan kita adalah menyampaikan informasi dengan jelas dan tidak membingungkan, maka seorang pembicara yang kecerdasannya di atas rata-rata ini harus turut pada aturan public speaking.
Dia tidak bisa seenaknya bicara melompat-lompat dari satu topik ke topik lain tanpa melakukan bridging. Karena ini bukan ajang pembuktian kecerdasannya. Dia harus menurunkan egonya agar dapat berpikir terstruktur.
Itulah sebabnya di sekolah dan di perguruan tinggi, seorang pengajar dituntut untuk bisa membuat desain instruksional. Agar materi dapat mudah dipahami oleh peserta ajar.

Menurut Dr. Mark Mattson, seorang peneliti saraf dari Johns Hopkins University, kinerja otak manusia itu terstruktur. Karena otak manusia adalah mesin pencari pola yang sangat efisien.
Mereka akan belajar dengan memproses informasi melalui sensory input. Jika inputnya dirasa penting oleh otak, maka otak akan meneruskannya ke short term memory. Disitu informasi dipilah, jika dirasa penting, maka diteruskan ke dalam long term memory.
Sebaliknya, jika sebuah informasi disampaikan secara tidak terstruktur dengan bahasa yang sulit dipahami, otak akan kelelahan memprosesnya. Akibatnya, informasi penting pun bisa dilupakan begitu saja. Dianggap sebagai sampah sehingga dikeluarkan agar tidak membebani kapasitas otak.
Para public speaker harus mempelajari cara komunikasi efektif di depan audiens jika ingin pesannya tersampaikan dengan baik.
Baca juga: Mengisi Podcast di ITB Press
Lesson Learned Cara Komunikasi Efektif untuk Public Speaker:
Tantangan seorang public speaker adalah bagaimana membuat audiens paham dan mengerti akan informasi yang disampaikan. Tidak masalah jika menggunakan bahasa ilmiah atau istilah rumit dalam menyampaikan ilmu, asalkan disampaikan secara terstruktur, dalam keadaan siap, dan tidak terengah-engah.
Karena sejatinya, menjadi public speaker bukanlah sekedar berdiri di panggung yang megah, melainkan melakukan bridging agar informasi atau ilmu tersebut terekam dalam ingatan audiensnya.
Post Terkait:
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment