Saya mau cerita tentang transportasi publik di Brunei, tepatnya di Bandar Seri Begawan. Tulisan ini saya buat, karena waktu saya upload reels tentang traveling ke Brunei, banyak di antara folowers saya yang bertanya dan mengirimkan DM, apakah saya menggunakan biro travel?
Jawabnya tidak ya. Saya menyusun itinerary sendiri, berangkat bersama sahabat-sahabat saya menggunakan transportasi publik, pun demikian saat di Bandar Seri Begawan. Oleh karenanya, disini saya mau cerita ke kalian semua, transportasinya apa saja, buat kemana, dan harganya berapa?
Buat yang baru gabung di website ini, biar ceritanya nyambung, silakan baca tentang Brunei Series:
- Menembus Border Negara Terunik di Dunia Naik Bus
- 8 Cap Paspor Imigrasi Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam
- Naik Bus Sipitang Express KK-Brunei
- 3D2N di Brunei Darussalam
- 2 Hari 1 Malam di Kota Kinabalu, Malaysia.
- Cara Beli Tiket Kereta di Malaysia
- Itinerary Sehari di Ipoh
- Solo Traveling Malaysia 5H4N
Transportasi Publik di Brunei: BSB City Bas
Terlalu larut dalam kemegahan dan ketenangan di Masjid Omar Ali Saifuddien membuat kami terlambat mengejar bas terakhir menuju Gadong. Menurut informasi dari Ibu Fatimah, seorang diaspora Indonesia yang kami temui di Wisma Setia, Bas terakhir beroperasi pukul 17.00. sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 16.50.
Bergegas, kami berjalan kaki menuju Terminal BSB sejauh 750meter. Kami memang tidak menemukan nomor bus kami, Bas 01.

Tepat pukul 17.00, lewat bus nomor lain. Saat kami tidak berniat masuk ke bus tersebut, Supir Bus memanggil kami.
“Mau kemana? Naik saja, ini bus terakhir.” Kata beliau.
Saya berkata kalau kami mau ke Gadong. Dan Supir Bus menyuruh kami naik saja, karena ini memang bus terakhir. Tidak ada bus lagi setelahnya. Nanti kami akan diturunkan di halte terdekat menuju Gadong. Akhirnya kami menuruti saran beliau.
Baca juga: Review Bus Sipitang Express Kota Kinabalu-Brunei Darussalam
Bertemu Diaspora Indonesia di BSB City Bas
Sesaat setelah menghempaskan diri di kursi bas yang saat itu hanya ada satu orang penumpang selain kami, supir bus bertanya, apakah kami dari Indonesia? Saya bilang iya kami dari Indonesia.
Mendengar logat bicaranya, saya menangkap bahwa Pak Supir ini bicara dengan aksen Jawa yang sangat kental.
Saya tanya apakah beliau dari Jawa? Ya, ternyata benar tebakan saya. Beliau berasal dari Jawa Tengah. Purworejo.
Luar biasa bukan? Ketemu saudara lagi di perantauan.
Ternyata, perjalanan dari Masjid Omar Ali Saifuddien cukup jauh.
Namun demikian, karena tidak ada macet dan jarang ada lampu merah, maka waktu tempuhnya cukup cepat. Hanya sekitar 17 menit saja.
Review Bas di Bandar Seri Begawan dan Tarifnya
Busnya berbentuk ELF warna-warni, dengan konfigurasi kursi 2-2, tanpa AC, tapi pintunya otomatis.
Tidak ada kondektur di Bus ini. Hanya supir yang bekerja sendiri.
Tarifnya jauh/dekat 1 BND/orang. Bayarnya harus cash. Tidak ada teknologi tap in Bus seperti di TransJakarta.


Nanti kalau kalian tidak ada uang pas, tinggal kasih saja uang ke Supir, kalian pasti dapat kembalian.
Halte BSB Station juga sangat sederhana, hanya halte tradisional yang tidak ada mesin berteknologi RFID, Infrared, atau NFC seperti di Jakarta.
Lagi-lagi, di Brunei masih sangat bersahaja, seperti Jakarta di tahun 1990an.
Tujuan Transportasi Publik Brunei banyak. Lengkapnya, kalian bisa lihat disini:
- Laluan 01A & 01C: Mengelilingi kawasan pusat bandar, pasar Kianggeh, dan The Mall Gadong.
- Laluan 20: Ke arah Batu Bersurat dan kawasan komersial Kiulap.
- Laluan 22: Menghubungkan terminal BSB ke kawasan pendidikan (UBD, ITB) dan hospital RIPAS.
- Laluan 23, 24, 34, 38: Laluan terus ke Lapangan Terbang Antarabangsa Brunei (Bandara Internasional Brunei Darussalam)
- Bas Ekspres Antara Daerah: Bas ke Tutong, Seria, dan Kuala Belait
Atau kalian bisa cek situs ini: Rute City Bas Bandar Seri Begawan
Lanjut ya, oleh Pak Supir, kami diturunkan di halte depan Nyonya Restaurant Gadong. Jadi kami tinggal jalan kaki ke Gadong Mall. Terima kasih Pak!
Taksi Online Brunei, Transportasi Publik Semi Private di Bandar Seri Begawan
Buat kalian yang terbiasa menggunakan angkutan online kalau sedang traveling, mungkin kalian juga bertanya-tanya, di Brunei ada Taksi Online nggak sih?
Jawabnya, Ya! Ada Taksi Online di Brunei. Tapi bukan Grab, Gojek, atau aplikasi yang biasa kita kenal di Indonesia.
Brunei punya aplikasi taksi online sendiri yang namanya DART.
Dart bisa kita install jika kita menggunakan e-sim, atau nomor Brunei gitu. Kalau kita kesananya pakai paket roaming ya nggak bisa.

Untuk tarif, memang lebih mahal dari Malaysia atau Indonesia. Sebagai gambaran, untuk 6,5km, Dart XL yang kapasitas 6 orang, tarifnya 9,5 BND atau sekitar 125ribuan. Ke Bandara 7,2km sekitar 200ribuan. Bayarnya cash ya.
Review Dart, Taksi Online Brunei
Menurut saya, mobilnya bagus dan bersih. Rata-rata mobil keluaran terbaru yang terawat dengan baik. Mirip Grab atau Gojek premium di Indonesia. Driver-nya juga ramah-ramah.
Untuk taksi biasa, disini jarang banget. Pun kalau ada, harganya mahal. Per jam 30 BND.
Ini saya nemu papan iklan di area Gadong. Mungkin kalian bisa coba WA ke nomor yang tertera di papan tersebut.
Sewa Mobil di Brunei, Harganya Berapa?
Kalau kalian mau jalan lebih jauh misalnya ke Pantai Tutong atau ke Temburong, saran saya kalian sewa mobil.

Tarifnya mulai dari 35 BND. Untuk SIM, di Brunei kita bisa pakai SIM Indonesia, karena SIM kita berlaku se-ASEAN, jadi nggak perlu pakai SIM internasional.
Menyusuri Kampong Ayer dengan Taksi Air
Setelah saya mencoba moda transportasi darat yaitu bas dan Dart di Bandar Seri begawan, kali ini saya akan mengajak kalian naik water taxi atau taksi air untuk mengeksplor Kampong Ayer di Brunei.
Cara pesannya mudah sekali. Kita tinggal tunggu di Jety sambil melambaikan tangan ke arah perahu.

Jety adalah dermaga untuk kita menyetop Perahu. Perannya seperti halte di daratan. Jumlahnya banyak, dan kita bebas menggunakan yang mana saja. Kalian tinggal melambaikan tangan, lalu nanti water taxi akan menepi.
Saat perahu menepi, kalian bisa sebutkan tujuan kalian mau kemana, dan jangan segan melakukan tawar menawar dengan nahkodanya.

Kalau hanya untuk menyeberang ke Kampung Ayer, tarifnya hanya 1 BND.
Namun, jika kalian ingin putar-putar seperti saya, kurang lebih 30-45 menitan, tarif 1 perahu Rp20 BND. Saat itu kami berlima, jadi per orang kurang lebih 4 BND atau Rp56.000/orang.
Biasanya Nahkodanya menawarkan antara 25-30 BND.
Kalau kalian nggak mau melihat Bekantan, kalian tawar saja dengan baik, 20 BND untuk putar-putar ya pak. Lalu sebutkan kalian mau diturunkan dimana.
Waktu itu saya minta diturunkan ke Jety yang terdekat dengan area Masjid Omar Ali Saifuddien. Namanya di Dermaga Diraja Jetty Brunei Waterfront, Jl. Mc. Arthur.
Sensasi Mengarungi Kampong Ayer dengan Water Taxi
Menyusuri Kampong Ayer menggunakan Taksi Air memberikan sensasi tersendiri. Sungainya besar, lebih mirip laut.
Mirip seperti sungai Barito yang membentang di Kalimantan Selatan. Berombak, berangin, dan bergelombang.

Bedanya, di Sungai Brunei ini kita nggak papasan dengan kapal tongkang, seperti yang kita temui di Sungai Barito.
Setiap kami berpapasan dengan taksi air lain, perahu yang kami tumpangi seperti dihempas gelombang tinggi. Melambung jauh rasanya dari permukaan air. Meliuk dan terangkat ke atas, seperti dibelah ombak lautan.
Nahkoda taksi air juga sangat ramah. Dia berbicara bahasa Melayu asli, yang masih sangat jelas diterima di telinga saya. Lebih dekat ke bahasa Indonesia. Mirip orang Riau jika bicara.
Atas saran Bapak Nahkoda Taksi Air, kami sempat difoto dengan latar belakang Masjid Omar Ali Saifuddien dari atas air.

Sekitar 45 menit kemudian, kami diturunkan di Dermaga Diraja Jetty Brunei Waterfront, Jl. Mc. Arthur.

Kemudian, saya dan teman-teman menikmati sejenak suasana di pusat kota Bandar Seri Begawan ini. Menikmati vibesnya, ketenangannya, juga keramahan warganya. Lalu obrolan sore ini saya rekam dan saya share di Instagram.

Saya tidak menyangka obrolan sederhana tanpa diedit itu bisa ditonton oleh puluhan ribu orang.
Pemandangan dan pengalaman berperahu di atas Sungai Brunei, takkan saya lupakan seumur hidup. Rasanya, udaranya, bau basahnya, percikan airnya, semua terekam jelas di kepala.
Menyisakan manis yang selalu bisa membuat saya tersenyum jika mengenangnya kembali.
Semoga ulasan dan cerita saya tentang transportasi publik di Brunei membantu kalian yang mau ke negeri Sultan ini, atau kalian yang ingin menyepi sejenak ke negara kecil yang hening.




Add comment