Buat kalian yang sudah terlalu jengah dengan keramaian Malioboro, mungkin sekarang saatnya kalian eksplore sedikit ke pinggiran kota Yogyakarta. Setelah dari Muntilan, saya mau ajak kalian menyusuri Kotagede Heritage. Kita akan melihat sudut dinding tua dan rumah warisan leluhur, menyaksikan gang perumahan warga yang bangga dengan sejarahnya, dan juga tentu saja, mampir ke salah satu tempat paling iconicnya, Rumah Pesik Kotagede.
Yogyakarta Series:
- Itinerary 4 Hari 3 Malam di Yogyakarta
- Menjelajah Kuliner Yogyakarta: Pasar Ngasem, Sate Kambing Mas Gandung
- nDalem Natan Royal Heritage
- Lokanusa Kotagede, Cafe yang ngasih kamu KTP gratis
- Ada salam dari Pasar Legi, Kotagede
Sejarah Kotagede Heritage
Sebelum kita berjalan lebih jauh ke Kotagede Heritage, ada baiknya kita mengulik sejarahnya. Kotagede tuh apa sih dulunya? Tempat apa? Kenapa bisa dibilang sangat penting dan merupakan titik mula Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat?
Ngga apa-apa ya kita bahas sejarahnya dulu. Supaya kalau kalian kesana, kalian akan punya ikatan ke kota ini. Dan bisa lebih meresapi maknanya.
Cerita Tentang Jaka Tingkir dan Ki Ageng Pamanahan
Jadi, sekitar abad ke 16, Jaka Tingkir, pendiri dan raja pertama Kesultanan Pajang, memberikan hadiah tanah kepada Ki Ageng Pamanahan, yang juga dikenal dengan Kyai Gede Mataram.
Dulunya, tempat ini bukanlah sebuah kota, melainkan hutan belantara yang dinamakan Mentaok. Pemberian hutan ini kepada Ki Ageng Pamanahan bukan tanpa alasan, melainkan karena jasa beliau yang mengalahkan Arya Penangsang (Raja kesultanan Demak/Sultan Demak V), sekitar tahun 1558, sehingga Jaka Tingkir bisa mendirikan kerajaan Pajang. Arya Penangsang ini merupakan kelahiran Lasem.
Biar ceritanya nyambung, kalian bisa baca juga: Mengenal perjuangan three musketeers Lasem
Setelah menjadi Raja Pajang, Jaka Tingkir bergelar Sultan Hadiwijaya. Beliau adalah cucu dari Sunan Kalijaga. Kalian ingat walisongo kan? Tokoh penting penyebar agama islam di nusantara. Jumlah walisongo ada 9, dan Sunan Kalijaga adalah wali yang ke-6.
Hutan Mentaok yang jadi Kerajaan Mataram dan Kotagede Menjadi Ibukota Pertamanya
Setelah menerima tanah hutan Mentaok, Ki Ageng Pamanahan mengubahnya menjadi Kadipaten Mataram. Kemudian dikembangkan lagi oleh putranya, Danang Sutawijaya menjadi sebuah kerajaan yang kita kenal sebagai Kerajaan Mataram Islam, dengan Kotagede sebagai ibukotanya pada tahun 1586.

Danang Sutawijaya merupakan Raja Pertama Kerajaan Mataram, bergelar Panembahan Senopati. Di masa kemudian, Kerajaan Mataram justru menyerang Kerajaan Pajang pada akhir abad ke-16.
Padahal tanahnya dikasih oleh kerajaan Pajang ya? Namun ketika Mataram sudah menjadi kuat, penguasanya justru malah berambisi meruntuhkan Kerajaan Pajang.
Ya…namanya juga politik. Dan pada masa itu, bukan hal yang aneh jika bicara tentang perebutan tahta atau memperluas wilayah kekuasaan.
Setelah mengalahkan kerajaan Pajang, selanjutnya Kerajaan Mataram Islam menjadi kerajaan dominan di nusantara. Kerajaan Mataram Islam mengalahkan sisa-sisa kekuatan Pajang dan menjadi kekuatan besar di Jawa hingga abad ke-18.
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram Islam yang sangat luas
Wilayah kekuasaan kerajaan Mataram Islam meliputi: Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat (kecuali Banten), dan Jawa Timur (termasuk Madura). Sukadana (Kalimantan Barat), Makassar, Palembang, dan Jambi di Sumatera.

Sehingga kerajaan ini merupakan Kerajaan yang sangat kuat dengan wilayah yang luas di nusantara. Sayang, kemudian Belanda datang dan memecah kerajaan Mataram ini menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta melalui perjanjian Giyanti.
Peninggalan Sejarah Mataram di Kotagede
Well, terlepas dari itu semua, Kotagede yang dulunya merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam menyimpan begitu banyak peninggalan bersejarah.

Diantaranya Pasar Legi Kotagede yang sudah ada sejak jaman Ki Ageng Pemanahan, Sendang Seliran yang merupakan pemandian keluarga kerajaan (mirip Tamansari Watercastle), selanjutnya ada Makam Raja-raja Mataram, Masjid Gede Mataram, dan Lawang Pethuk. Sebuah lorong di kelurahan Purbayan dengan rumah tradisional Jawa seperti Joglo dan Kalang yang masih bisa kita nikmati hingga hari ini.
Oke, sekarang kalian sudah tahu sejarah Kotagede. Yuk kita lihat seperti apa sisa-sisa kerajaan Mataram pada hari ini.

Bertandang ke Rumah Pesik Yogyakarta
Rumah Pesik adalah milik seorang pengusaha di Kotagede bernama Rudy J. Persik. Tampilan pada tembok luarnya berwarna hijau terang, menjadikan rumah ini mudah untuk dikenali.

Gaya bangunannya merupakan sentuhan ornamen khas jawa dan Eropa di sepanjang sisi.
Banyak Koleksi Patungnya
Jika kita masuk Rumah pesik, kita bisa melihat berbagai koleksi kepunyaan pemilik rumah, Rudy J. Persik, yang juga merupakan pemilik perusahaan DHL di Indonesia.

Ada banyak koleksi patung, keris, wayang serta barang-barang antik lainnya. Diantaranya meja, kursi ukiran antik, pajangan, lemari, dan perabotan lainnya yang juga menambah semarak tata ruang di setiap sudut rumah.

Rumah Pesik Guesthouse dan Kopi Kamu
Selain melihat koleksi pribadi dari pemilik rumah, disini juga tersedia Guesthouse dan Cafe Kopi Kamu.

Kalian bisa istirahat dan bersantai disini. Lokasinya tepat di samping taman dekat pintu masuk. Terdapat beberapa jenis kopi, hidangan serta camilan disini dengan harga yang terjangkau.

Guesthousenya dibuka untuk umum, dengan harga mulai dari 400ribuan per malam. Konsep kamarnya Javanesse luxury. Keren deh. Namun buat kalian yang hanya ingin eksplore dan melihat-lihat tempat ini, kalian tidak dikenakan biaya.
Rumah Pesik Wajib Masuk Wishlist Kalian Yang Suka Barang Antik dan Vintage
Menurut saya, Rumah Pesik adalah tempat yang wajib masuk wishlist kalian jika berkunjung ke Kotagede Yogyakarta. Rumah ini penuh dengan jejak sejarah, apalagi buat kalian yang suka barang antik, bernilai seni, atau ukiran yang penuh sejarah.

Masuk ke Rumah Pesik seakan membawa kita kembali ke masa lalu, dimana kita tidak hanya disuguhi ornamen khas Jawa yang berpadu dengan budaya Eropa, tetapi juga bisa melihat estetika, ketenangan, juga kesyahduan dari sebuah kota lama.
Sedikit Cerita Tentang Rumah Indische
Sebenarnya, setelah dari Rumah Pesik, saya melewati Omah Indische, sebuah rumah bergaya kolonial Belanda yang dibangun pada tahun 1860. Rumah ini sempat viral beberapa waktu lalu di social media. Konon katanya, di rumah ini ada Pocong Sumi. Sosok makhluk astral yang agresif saat Kru TV membuat acara uji nyali.
Jujur, saya juga baru tahu tentang Pocong Sumi ini dari seorang bapak yang menyapa kami di Masjid, yang terletak di depan Rumah Indische. Pak Nono namanya.
“Kalau saja sampeyan datangnya masih siang, saya antar masuk ke dalam mbak. Lihat pocong Sumi.”
Saya mau banget kalau diperbolehkan masuk ke rumah bersejarah ini. Kesempatan yang sangat langka tentunya, seperti yang saya alami di Rumah Tegel, Rumah Opa Oma, dan Rumah Oei Lasem. Sayangnya saat itu hari sudah petang, Adzan maghrib pun sudah memanggil. Jadi tentunya kami mengutamakan shalat.
Dari tempat wudhu di masjid, saya menatap ke arah Rumah Indiche yang kini pagarnya dipenuhi bunga Tabebuya. Ia masih anggun berdiri dalam gelapnya malam. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana-sini. Yang tersisa hanya kelabu.
Bahkan sebagian, batanya pun sudah usang. Ia telah lama terbengkalai, kurang terawat, namun Ia tetap setia menyimpan sejarah dari masa lalu.
Suasana rumah itu cukup mencekam dalam pekatnya kegelapan malam. Hanya lampu temaram yang sedikit meneranginya, namun itu tak cukup untuk menguak “rahasia” di balik pintunya.
Kadang, dalam setiap perjalanan, harus ada yang disisakan. Supaya ada alasan, untuk kembali lagi menyambangi rumah ini, juga mendengar cerita dari Pak Nono, tentang Ibu Sumiati. Seorang sinden yang pernah tinggal disini.
Dalam keyakinan saya, saya percaya, sosok astral itu bukanlah beliau, karena yang telah mati, sesungguhnya ia tak benar-benar pergi. Ia hanya pindah, untuk mengarungi kehidupan selanjutnya.
Cara Menuju Rumah Pesik dan Kotagede Heritage
Kalau kalian ke Kotagede, jangan lewatkan Rumah Pesik. Masuknya dari Gang Soka, yang ada Sign Petunjuk Omah UGM ya. Mengingat jarang sekali ada tulisan yang mengulas darimana tempat masuknya.

Kalau kalian dari Malioboro, kalian bisa naik Transjogja. Tarifnya Rp3600/orang. Kalau pakai e-money, flazz, brizzi, Rp2700/orang. Satu orang satu kartu. Lansia, pelajar Rp2000. Tiket juga bisa dibeli di halte ya.
Atau kalau mau praktis seperti saya, bisa naik Grab, Gojek, atau Indrive. Ongkosnya sekitar Rp40.000an untuk mobil standard. Arahkan maps kalian ke Gang Soka, Atau Pasar Legi Kotagede.
Tapi saya nggak rekomen naik Maxride ya, kejauhan soalnya.
Sharing cerita kalian di kolom komentar ya kalau sudah kesana…
Post Berikutnya:
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment