Di tulisan ini saya mau kasih rekomendasi tempat kuliner di Brunei yang cocok di lidah orang Indonesia. Ketika traveling bareng sahabat-sahabat saya, tugas utama saya adalah memastikan itinerary, sekaligus memilihkan tempat makan yang enak. Harus enak dan cocok di lidah mereka, supaya agenda traveling kami berjalan lancar dan suasana hati semuanya bahagia.
Kalian ada yang sama nggak? Kalau saat traveling ya harus makan sepuasnya, terutama kuliner lokalnya. Kalau gaya traveling kalian sama dengan saya, website ini adalah tempat yang sangat tepat untuk memandu kalian secara jujur saat berpetualang di Bandar Seri Begawan.
Brunei Series:
- Keliling Bandar Seri Begawan Pakai Transportasi Publik
- Menembus Border Negara Terunik di Dunia Naik Bus
- 8 Cap Paspor Imigrasi Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam
- Naik Bus Sipitang Express KK-Brunei
- 3D2N di Brunei Darussalam
- 2 Hari 1 Malam di Kota Kinabalu, Malaysia.
- Cara Beli Tiket Kereta di Malaysia
- Itinerary Sehari di Ipoh
- Solo Traveling Malaysia 5H4N
Gadong Night Market
Pasar ini sudah menjadi destinasi yang kami nantikan sejak di tanah air. Bahkan kami sengaja memesan hotel di area Gadong karena memang ingin mengeksplor kuliner di Gadong Night Market.
Gadong Night Market ini bentuknya seperti pasar indoor, tapi tanpa dinding. Kalau menurut saya, sekilas mirip dengan Pasar Modern yang ada di Indonesia. Dengan banyak tenant kuliner di setiap sisinya.

Makan apa di Gadong Night Market?
Sampai di sana, kami mencoba makan Bakso dan Soto, tapi yang masak adalah orang Brunei. Bukan orang Indonesia. Rasanya memang jadi berbeda dengan bakso dan soto yang biasa kita makan di Indonesia.


Bahkan saya lihat, kuah soto dan bakso itu berasal dari panci yang sama. Yang membuatnya berbeda hanya isiannya saja. Bakso berisi bakso dan bihun, sedangkan soto berisi suwiran ayam, sapi, dengan bihun.
Kemudian, di Brunei terasa lebih berempah, dan berkaldu, tapi kurang micin. Kalian ngerti kan, maksud saya?
Sambalnya juga hanya cukup pedas. Bukan pedas meledak seperti yang biasa saya makan di Bandung, Garut, atau Jakarta. Meskipun demikian, menurut saya rasanya cukup enak.
Berapa Harga Makanan di Gadong Night Market?
Harga seporsi standar bakso dan soto daging 3 BND, atau sekitar Rp43 ribu rupiah. Sedangkan porsi besar 5 BND, atau 70.000.
Terasa banget ketika rupiah kita lagi anjlok-anjloknya. Padahal di Desember 2025, kurs 1 BND itu masih di Rp10ribuan.
Selanjutnya kami juga beli mangga yang cukup besar. Harganya sekitar 3,5 BND per cup, dari 1 mangga. Rasanya manis, dengan hint asam. Mirip dengan mangga jenis cengkir di tanah air.
Disini mangga cukup mahal karena mungkin impor dari Malaysia atau Thailand.
Nasi Katok, Makanan Khas Brunei
Jangan lupa untuk mencoba makanan khasnya. Yaitu Nasi Katok dan Keropok Lekor. Nasi Katok itu nasi ayam dengan sambal hijau atau merah yang kita boleh pilih.
Konsepnya mirip dengan nasi kucing khas Yogyakarta, tapi disini porsinya besar.

Harganya mulai BND 1,20 untuk Nasi Katok Ayam, dan BND 3.00 untuk Nasi Katok Kambing.
Jujur, saya lebih suka Nasi Katok Kambingnya.
Keropok Lekor Khas Melayu
Menurut saya, keropok lekor itu bentuknya mirip batagor atau pempek lenjer. Saya kira tadinya itu pempek. Ternyata beda sekali rasanya.

Keropok Lekor merupakan cemilan khas Melayu yang terbuat dari tepung sagu dan ikan. Nanti makannya dicocol dengan saus yang pedas manis, bukan cuko asam pedas seperti di Palembang.
Ikan Bakar Segar
Jangan lewatkan juga ikan bakar segar disini. Benar-benar fresh dan rasa asli ikannya dominan karena tidak banyak bumbu.

Hanya menggunakan garam saja sehingga rasa manis dan umami dari ikannya tidak tertutupi.
Teh Tarik dan Aneka Dessert
Kemudian, ada teh Tarik dan aneka minuman serba 1 BND. Satu cup besar seperti ini.

Sebenarnya banyak dessert juga di Gadong Night Market. Tapi saya keburu kenyang. Kalau kalian mau, tersedia aneka kue tradisional, yang mirip sebenarnya dengan di Indonesia.

Chop Jing Chew Restaurant
Dari hotel, saya dan teman-teman berjalan kaki sepanjang 1,5 km ke Chop Jing Chew. Sebuah restaurant legendaris yang disukai warga lokal Brunei untuk sarapan. Lokasinya terletak di Simpang 5, No.10, Jalan Gadong, 1, Bandar Seri Begawan BE4119, Brunei.

Restaurant ini sering disebut Jing Chew. Didirikan tahun 1946 oleh keluarga Han dari Hainan dan menyajikan hidangan peranakan Chinesse Melayu seperti di Kopi Tiam.
Menu andalannya adalah Roti Kuning Kahwin. Kahwin dalam bahasa Brunei adalah Roti campur. Jadi seperti roti toast kaya (selai kelapa). Seperti ini bentuknya:

Varian lainnya adalah roti toast berisi selai kacang dan butter. Roti dengan telur mata sapi setengah matang.

Menurut saya, rotinya lembut, Selai kayanya juga enak dan tidak terlalu manis. Jujur, saya sangat familiar dengan rasanya.

Kemiripan rasa roti kuning kahwin dengan roti kaya toast yang biasa saya makan di Sabang 16, Kopi Oey Sabang, dan Kopi Purnama mencapai 98%. Baik dari segi tekstur, rasa, dan juga richness-nya.
Jadi bukan rasa yang baru. Pengalaman sarapan bersama warga lokal Brunei-lah yang menjadikannya spesial. Kami jadi bisa merasa lebih dekat dengan kehidupan warganya.
Soto Pabo, Kampung Ayer
Soto Pabo terletak di Kampung Ayer, tepatnya di Spg. 222, Jalan Kota Batu, Kampong Pintu Malim, Bandar Seri Begawan, Brunei. Dari tempat makan, kita bisa melihat sungai Brunei yang membelah dua sisi negeri.

Sungai ini juga dikenal banyak buayanya, sehingga seringkali saya melihat peringatan waspada adanya buaya di beberapa tempat.
Menu di Soto Pabo boleh dikatakan otentik Brunei, karena menyajikan aneka makanan yang memang rasanya familiar di lidah kita orang Indonesia, tapi beda citarasa.

Misalkan disini menu Soto. Rasanya lebih mirip sup kuah kaldu yang rich daripada Soto pada umumnya di Indonesia. Lalu semua menu Soto di sini tidak disajikan bersama nasi, melainkan dengan mie, bihun, atau kwetiau. Unik, bukan?

Kalau disuruh mendeskripsikan rasanya, kuliner Brunei merupakan perpaduan kuliner Indonesia (Kalimantan) dengan Malaysia. Meskipun bumbunya kuat, rasa yang dihasilkan tetap mild. Tidak berkuah santan kental dan bumbu yang nendang seperti kuliner Indonesia. Cocok untuk comfort food.

Harga makanan di Soto Pabo boleh dibilang terjangkau. Mulai dari 1,5 BND untuk minuman, dan yang termahal sekitar 18 BND untuk bertiga.
Tapi rata-rata, untuk menu perorangan, termahalnya sekitar 8,5 BND untuk menu laksa udang galah. Atau sekitar Rp120 ribuan. Seafood udang yang sangat segar dan melimpah porsinya.

Lucunya, kami dilayani oleh Kang Abdillah, dari Cianjur. Selanjutnya ada juga staf yang dari Cimahi. Akhirnya kami menggunakan bahasa Sunda saat berkomunikasi.
Menyenangkan sekali bertemu saudara setanah air di Brunei Darussalam.
Makan Siang di Ambuyat Liyana
Semula, saya hendak membawa sahabat-sahabat saya makan di Ambuyat Aminah Arif. Namun saat kami mampir ke Wisma Setia di pagi hari, kami bertemu dengan diaspora Indonesia yang memiliki toko di tempat itu. Ibu Fatimah namanya.
Olehnya, kami diberi tahu tempat makan yang enak. Karena kami ingin mencoba Ambuyat, Ibu Fatimah menyarankan makan Ambuyat di Liyana.
Sebuah Restaurant khas Brunei yang menyajikan menu Ambuyat yang lezat, dan letaknya di Batu Bersurat.


Batu Bersurat adalah kawasan komersial dan pemukiman sibuk yang terletak di Kampung Pengkalan Gadong/Kiulap, Bandar Seri Begawan. Di kawasan ini, terdapat banyak ruko yang menyediakan berbagai layanan seperti supermarket kecil, toko hewan peliharaan, dan kafe.
Kalau di maps pemerintah Brunei Darussalam, kawasan ini dinamakan kawasan hiburan menarik.
Restaurantnya tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Disini kami mencoba Ambuyat, makanan khas Brunei yang seperti Papeda atau Kapurung, dengan saus Tampoyak, ditambah sayur ubi tumbuk yang mirip masakan Padang. Menurut saya rasa dan tekstur Ambuyat ya 100 persen Papeda.

Bedanya adalah lauknya. Di Brunei menggunakan saus Tampoyak dari durian yang difermentasi, sedangkan Papeda atau Kapurung, biasanya disajikan dengan sayur ikan kuah kuning.
Satu lagi yang sayang untuk dilewatkan, adalah Cucur Campur.

Semula, kami memesan hidangan ini karena kami kira cucur campur adalah semacam sayuran seperti Capcay. Tapi ternyata salah besar.
Cucur dalam bahasa Brunei artinya Gorengan. Sehingga Cucur Campur adalah aneka gorengan.
Rasanya mirip dengan di Indonesia, gorengan berkualitas dengan ubi jalar, singkong, dan pisang goreng yang manis.
Mana Yang Paling Cocok dengan Lidah Orang Indonesia?
Diantara semua makanan yang saya coba di Brunei, hampir semuanya cocok dan memiliki kemiripan hingga 80-95% dengan hidangan Indonesia. Tapi kalau boleh memilih, yang paling persis makanannya dengan Indonesia adalah Nasi Katok.
Di Indonesia, nasi katok mirip nasi ayam dengan sambal, yang mudah kita temukan dimana pun berada. Rasa sambalnya seperti sambal rumahan, baik sambal hijau maupun sambal merahnya.

Porsinya juga cocok untuk orang Indonesia. Tidak terlalu banyak, tidak juga terlalu sedikit seperti nasi kucing. Lebih mirip nasi rames yang kita beli di warung.
Nah bagaimana hasil kurasi saya? Semoga bisa membantu kalian saat kulineran di Brunei Darussalam.




Add comment