Sudah masuk waktu Maghrib, ketika kami meninggalkan nDalem Natan Royal Heritage. Sehingga kami mampir ke Masjid Perak, untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu. Meskipun sedang traveling, kami selalu berusaha menjaga ibadah kami. Jangan sampai terlewat. Petang ini memang kami ingin menjelajahi Kotagede lebih lanjut, menguak sejarah Masjid Perak dan Lokanusa, hidden gem Kotagede.
Yogyakarta Series:
- Itinerary 4 Hari 3 Malam di Yogyakarta
- Menjelajah Kuliner Yogyakarta: Pasar Ngasem, Sate Kambing Mas Gandung
- nDalem Natan Royal Heritage
Disambut Jamaah Masjid Perak yang Ramah
Saat kami berwudhu, sholat berjamaah sudah dimulai. Saat itu hari Jumat malam, jamaah masjid cukup banyak memenuhi tempat ini.
Karena kami merupakan musafir, kami tidak ikut berjamaah, untuk nanti bisa sholat jamak qashar. Sepertinya para jamaah mengerti akan hal ini, dengan melihat wajah kami yang tentunya asing di mata mereka.
Namun demikian, keramahan warganya menyambut saya, Mbak Deasy, dan Bhekti. Oleh seorang ibu, kami langsung diberikan mukena untuk sholat. Sedangkan ibu-ibu lainnya menyambut kami dengan anggukan dan senyum hangat.
Indahnya jadi seorang muslim saya rasakan di sekujur tubuh saya. Meskipun tidak saling mengenal, berasal dari wilayah dan daerah yang berbeda, jika kita muslim, artinya kita bersaudara.
Sejarah Masjid Perak Kotagede
Bicara tentang sejarah Masjid Perak, masjid ini dibangun pada tahun 1940. Tepatnya pada tanggal 1 Syuro tahun 1940. Saat itu, Indonesia masih dalam kondisi perang untuk merebut kemerdekaan. Kalian yang paham sejarah bangsa ini pasti tahu, perlawanan sengit terhadap pasukan Belanda salah satunya adalah dari Kota Yogyakarta.
Di masjid ini, Drs. H. Zubaidi Bajuri, seorang ulama dari Kotagede mengumandangkan takbir, kemudian memimpin laskar Hizbullah ke garis terdepan medan pertempuran melawan Belanda. Saat itu, Belanda datang membonceng NICA untuk kembali menjajah Indonesia.
Masjid ini dinamakan masjid Perak, bukan karena Kotagede merupakan pusat pengrajin perak. Melainkan diambil dari bahasa Arab “Firoq” yang artinya pembeda. Masjid Perak menjadi lambang kebebasan umat dari pemikiran kotor, kebekuan berpikir pada masa lalu, dan pemisahan tegas kaum reformasi dari bentuk ikatan kekuasaan agama dari kerajaan islam dan adat.
Setelah batin terasa tenang di Masjid Perak, rasa penasaran kami terhadap Kotagede belum usai. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki sedikit lebih jauh menuju sebuah tempat bernama Lokanusa.
Lokanusa, Cafe Lokal yang ngasih KTP ke pengunjungnya
Seusai sholat di Masjid Perak, perjalanan kami lanjutkan ke Lokanusa. Sebuah tempat yang menurut Google Review sangat melokal dan menghadirkan nuansa a-la Ghibli. Ratingnya mencapai 4,9, sehingga membuat kami penasaran.
Dari Pasar Legi Kotagede, Lokanusa dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau di Google maps tertera hanya sekitar 700 meter saja. Namun karena kami salah jalan, jadi kurang lebih 1,5 kilometer.

Sembari menikmati lengangnya gang-gang di Kotagede. Jalan menuju tempat ini nyaman untuk berjalan kaki. Tidak ramai dengan kendaraan, tapi juga tidak gelap.
Rata-rata penerangan kami dapat dari lampu di setiap pekarangan rumah warga. Jadi masih aman.
Lokasi Lokanusa
Sebenarnya, Lokanusa terletak di tengah pemukiman warga. Namun, untuk menuju tempat ini kita harus melewati jalan kampung yang dipenuhi tanaman bambu.
Posisinya tepat berada di depan lapangan volly dan mini soccer yang disebut Bokong Semar Sport Center.
Saat kami datang di malam hari, sedang ada pertandingan antarkampung. Jadi kondisinya cukup ramai, Meskipun tidak terlalu berisik, ya. Kontras sekali dengan jalan sepi yang tadi kami lalui.
Menu di Lokanusa
Menurut saya, Lokanusa menyajikan makanan khas nusantara dengan harga bersahabat. Selain makanan berat, ada aneka minuman dan kudapan seperti jamur goreng, pisang goreng, dan lainnya.
Kalau saya perhatikan, tamu yang datang ke tempat ini rata-rata warga lokal. Mereka adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, warga lokal yang sedang ketemuan dengan teman-temannya, dan beberapa orang yang sedang meeting membahas pekerjaan.

Sepertinya malam itu, yang datang dari jauh hanya kami. Mengingat ini adalah hari kerja, bukan akhir pekan.
Lokanusa cukup luas, ada tempat lesehan, atau duduk di outdoor. Namun malam itu cukup penuh sehingga kami duduk di pendopo dan lesehan.
Cara pesannya mudah, dan kami tidak perlu menunggu lama. Pembayaran juga bisa menggunakan QRIS.
Hidangannya sendiri kebanyakan masakan Indonesia, dengan sentuhan lokal khas Jawa. Malam itu, saya memesan Nasi Soto Ayam dengan nasi dipisah. Seporsinya Rp18.000, ditemani segelas Es Kunir Asam (Rp13.000).
Selanjutnya, Mbak Deasy memesan Nasi, Ayam Areh, Lalapan, Sambal dan Kerupuk. Harga seporsinya Rp25.000. Minumannya Lime Tea (13.000).
Sedangkan Bhekti Memesan Mie Bihun Godhok seharga Rp22.000/porsi dan Segelas Bir Jawa (Rp15.000). Harganya sangat murah, bukan? Apalagi kita sudah bisa menikmati tempat yang nyaman di Lokanusa.
Menu lengkap beserta harga di Lokanusa Kotagede bisa kalian lihat disini.
Review Rasa Makanan di Lokanusa
Untuk rasa, Soto ayamnya sedikit kurang asin di lidah saya, namun ketika saya tambahkan garam, rasanya menjadi enak. Gurih. Kuahnya rich tapi masih tergolong bening. Cocok dinikmati dengan nasi putih.
Saya juga mencoba pesanan Mbak Deasy, Ayam Areh. Ternyata rasanya juara. Ayamnya kaya rempah, ada aroma jahe, lada, lengkuas, kemiri, dan sedikit ketumbar. Rasa ini mengingatkan saya pada Ingkung. Sebuah hidangan istimewa yang hanya disajikan di acara khusus kalau nenek saya syukuran.
Kemudian untuk Mie Bihun Godhok, rasanya sedikit hambar. Buat Bhekti yang pecinta MSG, dia tidak cocok dengan rasa Bihun Godhok disini. Meskipun demikian, bagi saya yang tidak terlalu sering menggunakan penyedap rasa, kuahnya sudah gurih dari kaldu.
Buat para pecinta pedas, sepertinya akan sedikit kecewa. Mie Bihun Godhok ini tidak dilengkapi dengan sambal. Tapi kita bisa meminta tambahan cabai iris untuk menambah rasa.
Setelah pulang, saya baru tahu kalau semua hidangan di Lokanusa, Non MSG dan penuh rempah. Jadi pantas ketika Bhekti sang pecinta MSG merasa ada yang kurang dengan rasanya.
Slogan Lokanusa cukup unik. Satu nusa, ragam rasa. Menggambarkan menunya yang menghadirkan hidangan lokal, dengan beragam rasa dari nusantara.
Selain itu ada yang unik disini. Kita bisa mengambil KTP (Kartu Tanda Pengunjung) Lokanusa yang merupakan duplikasi dari KTP asli Warga Negara Indonesia.

Kalau buat kalian yang ngajak teman dari luar negeri, tentu pengalaman ini bisa menjadi kenangan yang menyenangkan.
Siapkah kalian diberikan KTP oleh Lokanusa?
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment