Dua masjid terkenal di Brunei Darussalam, keduanya berkubah emas, sekaligus ikonik dan menjadi lambang negara adalah Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah dan Masjid Omar Ali Saifuddien. Saat perjalanan ke negeri sultan ini, saya pun menjadikan kedua masjid tersebut sebagai tujuan utama kami.
Supaya ceritanya nyambung, buat kalian yang baru masuk website ini, bisa baca dulu postingan sebelumnya:
Brunei Series:
- Berburu Kuliner Khas Brunei
- Keliling Bandar Seri Begawan Pakai Transportasi Publik
- Menembus Border Negara Terunik di Dunia Naik Bus
- 8 Cap Paspor Imigrasi Sabah, Serawak, dan Brunei Darussalam
- Naik Bus Sipitang Express KK-Brunei
- 3D2N di Brunei Darussalam
- 2 Hari 1 Malam di Kota Kinabalu, Malaysia.
- Cara Beli Tiket Kereta di Malaysia
- Itinerary Sehari di Ipoh
- Solo Traveling Malaysia 5H4N
Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah
Setelah sarapan, kami mengeksplor sebentar pusat bisnis Bandar Seri Begawan, sekedar ingin melihat bagaimana suasana dan geliat bisnis di ibukota negara sultan. Saya juga sempatkan melihat harga kebutuhan pokok dan produk Indonesia di sini.
Perjalanan kami lanjutkan ke Gadong, lalu ke Masjid ‘Asr Al-Hassanal Bolkiah. Salah satu Masjid terkenal di Brunei Darussalam. Dari penginapan kami di Gadong, kami berjalan kaki menuju Masjid sekitar 2,1 km. Karena memang kami ingin menikmati vibes kotanya.
Masjid Al-Hassanal Bolqiah dikenal dengan masjid berkubah emas 24 karat.

Saat pertama kali melihatnya dari Bus Sipitang Express, Pakcik kru berkata, “Kalian harusnya kemari bawa pahat untuk ambil emas di kubahnya. Sekali pahat bisa untuk hidup sampai mati.” Kami pun terbahak oleh kelakar beliau.
Suasana di Sekitar Masjid Jamek Asr Al-Hassanal Bolkiah
Menurut saya, masjidnya cantik. Megah dan kokoh. Marmernya juga terlihat sangat berkualitas. AC-nya sangat dingin, memberi kontras yang jelas antara suhu di luar dengan di dalam Masjid terkenal di Brunei dengan kubah emasnya.

Meskipun tidak seartistik masjid di Indonesia, tapi kemegahan dan kedamaian di Masjid Jame’ Asr Hassanal Bolkiah luar biasa menurut saya.
Tidak ada kebisingan di dalam masjid. Tidak ada celoteh terlalu keras. Semua orang yang berkunjung berbisik dan menghormati yang sedang beribadah.
Syahdu, khusyu.


Tidak diperbolehkan mengambil gambar di tempat sholat wanita
Di dalam masjid, khususnya di area tempat shalat wanita, kita tidak diperbolehkan mengambil gambar, atau mengunakan kamera dalam bentuk apapun. Sehingga saya juga tidak bisa memberikan foto dalam masjid kepada kalian.

Saya memilih menghormati aturan ini. Karena saya tahu, tidak semua turis bisa mengerti soal pentingnya aurat dan kehormatan wanita.
Aturan ini dibuat demi menjaga marwah wanita agar tidak terekspose pada saat mereka beribadah, juga memastikan mereka nyaman saat melepaskan hijabnya di dalam masjid. Karena wanita, begitu berharga.

Masjid Omar Ali Saiffudien
Kami naik taksi air dari Kampong Ayer ke Brunei Waterfront. Selanjutnya, kami berjalan kaki sekitar 800 meter menuju Masjid Omar Ali Saiffudien. Sebuah masjid kubah emas yang berada di tengah danau.

Suasana di Sabtu Sore sungguh tenang dan hening. Matahari juga sudah mulai teduh, memberi cahaya keemasan yang memantul indah di kubah emas 24 karat Masjid Omar Ali Saiffudien. Saya tersenyum saat melihatnya dari kejauhan.

Pantaslah kiranya, Masjid Omar Ali Saiffuddien menjadi masjid terkenal di Brunei. Ia berada tepat di jantung kota Bandar Seri Begawan.
Sebuah Manifestasi yang Menjadi Kenyataan
Akhirnya saya sampai di Brunei Darussalam, pikir saya. Sebuah kota yang hanya saya tuliskan di lembar jawaban ujian sekolah. Kota yang tak pernah terpikirkan oleh saya bakal saya kunjungi di suatu hari nanti.
Tapi saya sampai juga kesini, setelah saya selesai mengelilingi negeri sendiri.

Ada rasa sejuk dalam dada saat melihat bangunan masjid yang berdiri megah di atas air. Ada kedamaian dalam sanubari yang mengatakan, “Hai, selamat datang kerumah.”
Sepertinya Allah sedang memanggil saya untuk sejenak menepi dan beristirahat di rumahNya. Memberikan petunjuk bahwasanya, jalan untuk saya tidak hanya satu. Tapi banyak. Banyaak…sekali. Sehingga La Tahzan. Innallaha Ma’ana.
Petugas Masjid yang Ramah Menyapa
Kami disambut petugas yang ramah saat sampai di pelataran masjid. Sebagai seorang muslim, saya bangga akan hal ini. Siapapun yang hendak masuk masjid, pasti disambut selayaknya kita pulang kerumah.
Demi Allah, saya semakin bersyukur menjadi seorang muslim. Yang tak perlu takut setiap melangkah ke penjuru dunia. Karena dimana ada Masjid, disitulah kami bisa pulang dan memohon perlindungan.
Rumah Allah yang juga menjadi rumah bagi setiap hamba.
Interior Masjid Omar Ali Saiffudien yang Mewah Namun Bersahaja
Interior Masjidnya mewah, megah, dan teduh. Kaca patri yang dibawa langsung dari London, dengan pintu dari kuningan asli dan lantai marmer yang memanjakan mata.
Karpet Axminster dari Benang Mewah di Masjid Omar Ali Saifuddien
Karpetnya tebal, empuk saat dipakai untuk sujud dan berdiri saat shalat. Menurut penjaga masjid, karpet ini merupakan karpet Axminster buatan tangan yang sangat detail.

Benang mewahnya dirajut dengan teliti hingga menghasilkan produk akhir yang selembut ini. Tidak tanggung-tanggung, karpet ini diimpor langsung dari Arab Saudi.
Desain karpet ini memiliki corak Islam yang rumit yang melengkapi keindahan interior pualam Italia dan lampu kristal Inggris di masjid tersebut.
Jendela Kaca Patri Berbingkai Tembaga
Selanjutnya, jendela kaca patri di Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien memesona mata saya.
Berbeda dengan gaya art deco peninggalan jaman Belanda yang bisa kita temukan di Indonesia, Kaca patri di Masjid Omar Ali Saiffudien dihiasi dengan corak geometris non-figuratif yang dibingkai tembaga. Artinya, tidak ada bentuk yang menyerupai siluet manusia atau hewan.

Kacanya didatangkan langsung dari Inggris. Saat tertimpa cahaya matahari, kaca ini menciptakan efek magis di dalam ruang shalat utama, berpadu dengan marmer Italia dan kubah mozaik kaca Venesia.
Pintu Tembaga Berukir Seni Islam
Pintu Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien terbuat dari bahan tembaga dengan ukiran seni Islam. Desain pintu ini berpadu serasi dengan kaligrafi Arab, pola geometris, dan kaca patri yang menghiasi bagian interiornya.
Ada satu pintu yang hanya dibuka untuk keluarga kerajaan. Pintu ini terletak di dekat mihrab Imam.

Seolah menggambarkan bahwa, di dunia saja rumah Allah sudah sebegini indah, bagaimana dengan di akhirat nanti? Bagaimana megahnya bisa disandingkan dengan dunia fana?
Mungkin indahnya takkan pernah terbayangkan oleh otak manusia dengan imajinasi tertinggi sekalipun.
Fun Fact: Kenapa Tidak ada Bangunan Tinggi di Brunei Darussalam?
Ini juga yang menjadi pertanyaan saya saat memasuki wilayah Brunei Darussalam. Saya tidak menemukan gedung tinggi, atau gedung pencakar langit di negeri ini. Tidak ada Satu Pun!
Saat saya bercakap dengan beberapa warga setempat, ternyata terdapat fakta bahwa, ada aturan tidak tertulis di Brunei, yang melarang pembangunan gedung melebihi tinggi menara masjid. Hal ini dilakukan demi menghormati nilai-nilai keagamaan.


Akhirnya pertanyaan saya pun terjawab, kenapa tidak ada gedung pencakar langit di Brunei.
Sebagai bahan perbandingan, gedung tertinggi di Brunei adalah Gedung Kementerian Keuangan, yang tingginya hanya sekitar 120 meter.
Sedangkan di Jakarta, Gedung tertinggi adalah Gedung tertinggi saat ini adalah Autograph Tower. Menjulang setinggi 385 meter, gedung pencakar langit supertall yang berlokasi di kawasan Thamrin Nine.
Dulu, Bung Karno pernah membuat aturan, kalau di Jakarta tidak boleh ada gedung yang melebihi tingginya Monumen Nasional (Monas). Namun sekarang, kebijakan itu jelas sudah terpinggirkan. Membuat permukaan tanah Jakarta terus menurun setiap tahunnya.
Menurut kalian, bagaimana?
Post Sebelumnya:
- Menepi Sejenak ke Masjid Terkenal di Brunei Darussalam
- Berburu Kuliner Khas Brunei Yang Cocok di Lidah Orang Indonesia: Hasil Kurasi Jujur Saya
- Keliling Bandar Seri Begawan Pakai Transportasi Publik, Mana yang paling seru?
- Pengalaman Lintas Border Overland Malaysia-Brunei Darussalam, Dapat 8 Cap Paspor Imigrasi!
- Menembus Border Terunik di Dunia: Pesta Cap Paspor di Sabah, Sarawak, dan Brunei!




Add comment