Rasanya julukan The Legian of Yogyakarta memang tidak berlebihan untuk disematkan ke Jalan Prawirotaman. Betapa tidak, saat saya berkunjung kesini di malam hari, saya lebih banyak bertemu dengan turis mancanegara, daripada wisatawan lokalnya.
Yogyakarta Series:
- Itinerary 4 Hari 3 Malam di Yogyakarta
- Menjelajah Kuliner Yogyakarta: Pasar Ngasem, Sate Kambing Mas Gandung
- nDalem Natan Royal Heritage
- Lokanusa Kotagede, Cafe yang ngasih kamu KTP gratis
- Ada salam dari Pasar Legi, Kotagede
Banyak bar di sebelah kanan dan kiri jalan, musik rock dan disko berkumandang dari sana-sini, orang-orang bebas minum bir sambil menikmati malam, dan saya tidak menemukan unsur lokal, di Jalan Prawirotaman Yogyakarta. Jauh berbeda vibesnya dengan Jalan Malioboro.
Buat kalian yang introvert seperti saya, Jalan Prawirotaman di malam hari tentu bukanlah tempat yang nyaman. Namun buat kalian yang suka mencoba hal baru dan mengeksplore tempat hangout selain di Malioboro, Prawirotaman jelas memberikan pengalaman dan nuansa yang berbeda tentang Yogyakarta.

Masyarakatnya ramah, seperti pada umumnya yang kita temui di Yogyakarta. Harga penginapan cenderung murah dan terjangkau, karena banyak backpacker mancanegara yang menginap di area ini.

Setelah malam sebelumnya kami menginap di The Edwin Syariah dan Sans Hotel Malioboro, malam itu saya dan teman-teman memutuskan untuk menginap di Jalan Prawirotaman, tepatnya di Ministry Homestay. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa menginapnya pindah-pindah terus?
Jawabannya sederhana. Kami ingin menikmati tiga lokasi yang berbeda, untuk bisa bercerita lebih banyak dan merekomendasikan banyak tempat ke kalian. Seperti kali ini, kita akan melihat temuan Bhekti akan sebuah hotel berkonsep unik dan terletak di jantung jalan bersejarah ini.


Cerita dari Jalan Prawirotaman Yogyakarta
Ceritanya berawal dari abad ke-19. Jalan Prawirotaman adalah kawasan elit, dimana Kraton Yogyakarta memberikan lahan daerah ini kepada sekelompok prajurit kraton bernama Prawirotomo. Kata tersebut merupakan gabungan dari Prawiro yang berarti prajurit prawira yang berani, dan Tama, yang artinya ahli atau pandai.
Prawirotomo kemudian membangun rumah kediaman mereka, sebagai hadiah atas jasa mereka dalam membantu Sultan Hamengku Buwono dalam melawan penjajah Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu, keturunan para prajurit Prawirotomo ini menjadikannya sebagai kampung batik. Sehingga di masa setelah kemerdekaan, jalan Prawirotaman sempat dikenal sebagai “kampung batik Prawirotaman”.
Waktu terus berlalu, hingga di akhir tahun 1970an, usaha batik di kampung ini mulai memudar. Berganti dengan usaha penginapan.
Memang benar kata pepatah. Setiap masa ada orangnya. Setiap orang ada masanya.
Hingga hari ini, keturunan dari prajurit Prawirotomo banyak menyewakan rumahnya untuk ruang usaha, atau penginapan. Menjadikannya pilihan bagi para wisatawan, yang ingin mengenal warga lokal lebih dalam.
Suasana Pagi di Jalan Prawirotaman
Jauh berbeda dengan suasana malam hari yang ramai, suasana pagi di jalan bersejarah ini sungguh kontras. Saat waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, suasana jalan masih sangat sepi. Hanya ada satu-dua orang yang nampak sedang berlalu lalang di jalan ini.

Tidak banyak pula kendaraan yang melintas, kecuali kendaraan milik tamu hotel, atau taksi online yang mengantar jemput penumpang.
Menurut saya, suasana pagi di Prawirotaman yang hening justru memberikan kenyamanan tersendiri buat orang yang menginap di area ini.

Meskipun demikian, kalian tidak perlu khawatir jika ingin mencari sarapan. Banyak pedagang yang berkeliling di sekitar jalan ini, atau jika kalian mau jalan kaki sedikit ke arah Jl. Parangtritis, kalian bisa menemukan Mie Ayam Contreng. Rasanya enak sekali, harganya juga murah.
Apakah ada diantara kalian yang pernah menyusuri gang-gang di Prawirotaman dan melihat sisa kejayaan di masa lalu? Boleh cerita di kolom komentar ya…
Post Terkini:
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment