Keraton Yogyakarta pasti sering kalian lihat, kan? Berkunjung kesana mungkin juga kalian pernah. Menikmati keraton, melihat pertunjukan gamelan, atau sekedar jalan-jalan melihat benda bersejarah di museumnya. Tapi kalau makan di dalam keraton bagaimana? Kali ini saya akan mengajak kalian semua untuk melihat Bale Raos Restaurant, yang terletak di dalam Keraton Yogyakarta.
Supaya kalian bisa melihat lengkap itinerary Yogyakarta secara bersambung, kalian bisa baca tentang Yogyakarta Series dibawah ini:
Yogyakarta Series:
- Itinerary 4 Hari 3 Malam di Yogyakarta
- Menjelajah Kuliner Yogyakarta: Pasar Ngasem, Sate Kambing Mas Gandung
- nDalem Natan Royal Heritage
- Lokanusa Kotagede, Cafe yang ngasih kamu KTP gratis
- Ada salam dari Pasar Legi, Kotagede
- Jalan Prawirotaman, Tempat Hangout Wisatawan Asing di Jogja
- Makan Malam Hidangan Favorit Sultan Yogyakarta
The Sultan Dishes in Bale Raos Restaurant
Di Keraton Yogyakarta, kita bisa fine dining. Menikmati hidangan sambil merasakan vibes kerajaan dalam setiap suap makanannya. Nama restaurantnya Bale Raos. Atau biasa disebut The Sultan’s Dishes.
Seperti namanya, di Bale Raos kita bisa mencicipi hidangan khusus kegemaran raja-raja zaman dahulu, mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sampai dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Menunya beragam, mulai dari yang paling sederhana seperti mie godhok, atau kudapan yang digoreng, hingga beef steak atau sering disebut bistik Jawa.
Arsitektur Bergaya Jawa yang Menawan
Arsitektur restaurant Bale Raos bertema arsitektur tradisional Jawa yang kuat, khususnya gaya joglo yang menjadi ciri khas bangunan Jawa dan juga arsitektur Kraton Yogyakarta.


Bangunan utamanya mengusung atap tinggi dan struktur terbuka yang mencerminkan suasana klasik dan anggun dari arsitektur keraton.
Pada bagian fasad depan, kita bisa melihat detail Plengkung Gading dan pilar-pilar dengan ukiran kayu khas keraton, memberi kesan tradisional dan mewah namun tetap hangat.
Sedangkan bagian dalam, terdapat ballroom luas, lalu air mancur, dan tanah lapang luas yang diapit oleh dua bangunan Joglo. Sebelah kiri pintu masuk terdapat joglo dengan konsep terbuka, sedangkan sebelah kanan adalah Joglo tertutup dengan ruangan ber-AC.

Restaurant Bale Raos berdiri sejak 23 Januari 2004, atas prakarsa KGPH Hadiwinoto, sebagai upaya mengimplementasikan ide GKR Hemas untuk melestarikan dan membuka pintu keraton kepada masyarakat umum. Tujuan dibukanya restaurant ini juga agar masyarakat bisa mengetahui dan menikmati kuliner Kraton Jogja.

Ballroom sebelum masuk resto
Rasa Makanan dan Minuman di Bale Raos Restaurant
Menurut saya, makanan disini cukup enak dengan rasa sederhana. Bisa diterima lidah orang dalam dan luar negeri. Platingnya seperti di hotel bintang 5, namun dengan harga yang masih reasonable menurut saya. Mulai dari 30ribuan, hingga ratusan ribu rupiah.


Bumbunya tidak terlalu kuat, sehingga memang cocok untuk mengenalkan rasa yang disuka oleh raja Jawa kepada orang luar.
Kalau saya sendiri, justru menangkap rasa sederhana ini seperti simbol raja Yogyakarta yang selalu sederhana, sehingga tidak terjadi ketimpangan yang jauh dengan rakyatnya.
Sedangkan rasa minumannya, boleh dikata enak sekali. Jus Mangga yang saya pesan benar-benar terbuat dari mangga murni, bukan dari sirup mangga. Meskipun saya minta untuk tidak ditambahkan gula, rasa asli dari mangganya sudah manis alami.
Supaya bisa melihat menu dan harganya dengan lengkap, kalian bisa lihat : Menu lengkap Bale Raos Restaurant disini
Lokasinya berada di lingkungan kompleks Keraton Yogyakarta, sehingga nuansa budaya serta estetika kerajaan sangat terasa sejak kita masuk ke kompleks gedung ini. Alamatnya di Jl. Magangan Kulon No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, DIY.
Post Terbaru:
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment