Indonesia Kaya, Pulau Iboih

Beranda Nusantara Kaya, Cara Saya Mengenalkan Kekayaan Indonesia Lewat Project Nyata

Hari terakhir di bulan Agustus. Saya harus hiatus traveling untuk sementara waktu. Karena bulan ini adalah bulan saya wajib kembali ke depan kelas, untuk mengajar Integrated Marketing Communication di Universitas Multimedia Nusantara. Sebuah mata kuliah yang memfasilitasi saya untuk bisa menularkan rasa cinta Indonesia, sekaligus mengenalkan kekayaan Indonesia kepada para mahasiswa.

Post Terkait:

Tema Project yang Berbeda Setiap Tahunnya

Setelah tahun lalu saya memberikan tema project From Countryside to the Nationwide, yang juga adalah proyek mahasiswa untuk mengembangkan merek lokal di luar Pulau Jawa, tahun ini saya kembali menjadi Koordinator Mata Kuliah Integrated Marketing Communication, dan memberikan tantangan yang berbeda.

Tahun ini saya meminta mahasiswa untuk merancang komunikasi pemasaran yang menonjolkan produk, jasa, atau kekayaan khas Indonesia, serta cara pembuatannya yang telah menjadi bagian dari budaya bangsa.

Perbedaan Karakteristik Mahasiswa Kampus Negeri dan Swasta

Awalnya tentu saja tidak mudah. Harus saya sebagai dosen yang mengawalinya. Berbekal pengalaman keliling Indonesia, saya ajak mahasiswa untuk mengetuk setiap pulau di Ibu Pertiwi.

Perlu diketahui, mahasiswa saya adalah Gen Z yang pahamnya hanya lingkungan sekitar tempat tinggal sendiri. Mereka juga tidak kuliah di tengah keberagaman seperti saat saya kuliah dulu.

Di kampus swasta, persebaran asal mahasiswa tidak seberagam kampus negeri. Di kampus ini, tidak banyak yang berasal dari luar Jawa. Kalaupun ada, jumlahnya paling kurang dari 5 orang dalam satu kelas. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan kondisi saya yang kuliah di kampus negeri.

Kampus negeri adalah tempat dimana para lulusan SMA di penjuru negeri bertarung masuk ke kampus tersebut. Sehingga konsekuensinya, kita akan memiliki banyak sekali teman-teman dari luar daerah. Terutama dari luar kota, atau luar pulau.

Mengenal Kekayaan Indonesia dari Teman Sebaya

Saya mengenal Indonesia, salah satunya dari teman-teman saya.  Dari setiap perbincangan, akhirnya saya kenal budaya Minang, Batak, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Palembang, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua, saat saya masuk ke Perguruan Tinggi Negeri.

Budaya yang berbeda ini melebur ketika kita kuliah dan duduk di dalam kelas yang sama, atau mengikuti organisasi kampus yang sama. Menjadikan kami satu Indonesia. Satu rasa, satu asa, meskipun berbeda cita.

Dari kegiatan itu, kita bisa mengenal lebih dalam suku, agama, ras, bahasa daerah, dan kebiasaan masyarakatnya lewat cerita dan obrolan. Sehingga akhirnya, timbul toleransi yang tinggi antardaerah, sekaligus memeluk perbedaan dan melihatnya sebagai keragaman bangsa.

Kembali lagi ke kondisi mahasiswa saya kali ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang yang tinggal di sekitar Jabodetabek. Saya pun tidak bisa menyalahkan mereka, manakala mereka mengenal Indonesia hanya dari kacamata yang terbatas itu. Atau, dari social media yang informasinya bisa simpang siur.

Tak Kenal, Maka Tak Sayang

Oleh karenanya, saya merasa perlu memperkenalkan negeri ini lebih dalam, melalui tugas dan project yang saya berikan ke mereka. Sifatnya seperti tantangan begitu.

Tak kenal, maka tak sayang. Tak tahu, maka tak suka. Tidak pernah mendengar dan melihat, maka sulit sekali untuk memaknai arti dari toleransi.

Tugas saya adalah membukakan mata mereka soal negeri yang luas dan indah ini, dengan potensi alam, kekayaan, budaya, yang sebenarnya tak terkalahkan di dunia. Hanya saja, si pemiliknya seringkali tidak menyadari kalau dirinya kaya. Dirinya mampu, dan memiliki potensi sebesar ini.

Setelah diberi pengarahan, mereka mulai menyusuri kekayaan bangsa ini.

Diantaranya ada yang ingin mengenalkan Danke, keju dari Enrekang yang terbuat dari susu kerbau. Lalu memasarkan Andaliman, rempah khas Toba, Sambal dari Cabai Hiyung, cabai terpedas di dunia yang berasal dari Tapin Tengah, Cokelat dari Pusat Penelitian Cokelat dan Cocoa Jember, Sirup Jeruk Kunci khas Belitung, Mengenalkan Oncom sebagai superfood dari Indonesia, dan lain sebagainya.

Saya ingin, Nusantara dibawa ke ruang kelas, diperkenalkan, lalu dibuatkan rencana komunikasi pemasaran di bawah bimbingan saya, untuk bisa dikenalkan lebih luas ke seantero negeri.

Analogi Melihat Indonesia dari Sudut Pandang Gen Z

Ketika mendengar dari mereka yang mengira Indonesia itu miskin, jelek, dan nggak punya apa-apa, tentunya saya tanya, darimana mereka menyimpulkan itu?

Rata-rata mereka menjawab, dari pemberitaan di social media, kata influencer, dan juga komentar netizen di berbagai platform yang putus asa dengan keadaan Indonesia saat ini.

Ibarat Tinggal di Gedung yang Sangat Besar dan Tinggi

Mahasiswa seperti orang tinggal di dalam Gedung yang sangat besar dan tinggi. Sehingga seringkali ia tidak bisa melihat keseluruhan Gedung.

Jangankan melihat besarnya Gedung itu, ia mungkin tidak tahu di lantai mana dirinya tinggal. Berapa banyak lantai dalam gedung itu, berapa banyak orang yang tinggal di dalamnya, ada barang apa saja disana, dan lain sebagainya.

Yang ia tahu dan bisa ia lihat, hanya seluas jangkauan dirinya saja. Sehingga persepsi terhadap kebesaran Gedung itu pun mengecil, sesuai dengan keterbatasan persepsinya sendiri.

Kosakatanya pun terbatas pada permukaan yang bisa dilihatnya saja. Yang mungkin, sangat sedikit. Namun sesungguhnya, ia tidak mengenal betapa luas dan banyak sekali isi Gedung itu.

Padahal, kalau saja kita mau berjalan, lalu membuka satu demi satu jendela gedung dan mengintip isinya, tentu sedikit banyak kita bisa memperkirakan, betapa luas Gedung yang kita tinggali, lalu otomatis, persepsi kita akan berubah tentangnya.

Pemikiran kita terbuka.

Kita akan bisa bilang bahwa Gedung tersebut punya kamar, punya ruang rapat, punya ruang istirahat, punya lapangan futsal, lapangan basket, lapangan bola, dan lain sebagainya.

Kiranya itulah tujuan saya setiap saya mengajar. Saya ingin mahasiswa saya mulai membuka jendela negerinya, agar persepsinya meluas, dan tidak melihat Indonesia dari sisi jeleknya saja.

Mereka akan mulai kenal dengan kekayaan alamnya, kebunnya, lautnya, tanahnya, budayanya, orang-orangnya, bahasanya.

Lalu mulai bisa menarik Kesimpulan dengan objektif.

Ternyata Indonesia, negeri kita sekeren itu!

Misi Mahasiswa Setelah Paham Kekayaan Indonesia:

  • Bagaimana caranya supaya setiap orang di Indonesia ini tahu dan sadar kalau kita sekeren itu?
  • Bagaimana caranya supaya dunia dengar suara kita, melihat negeri kita, bukan semata karena satu lokasi saja, tapi karena kita adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia?

Tentang Project Beranda Indonesia Kaya

Tema ini menempatkan Indonesia sebagai sebuah ruang agung yang penuh dengan keindahan dan nilai luhur, di mana target audience diajak untuk melihat, mengenal, dan mengapresiasi kekayaan tersebut dari sudut pandang Nusantara Kaya sehingga mendorong konversi penjualan.

Etalase Utama yang Menampilkan Segala Kekayaan dan Potensi Nusantara.

Luaran dari project ini adalah sebuah dokumen IMC Plan, rancangan konten di setiap media, program promotion mix, copywriting project, dan juga iklan yang akan tayang di Youtube.

Saya membatasi produk-produk yang saturated market seperti parfum, skincare, kosmetik, distro, dan snack.

Alasan pembatasan karena menurut saya, kategori tersebut adalah produk komersial umum yang sering kali terlalu mudah dieksploitasi oleh mahasiswa tanpa strategi komunikasi pemasaran yang mendalam.

Selain itu, saya ingin mendorong inovasi mahasiswa untuk mengangkat komoditas hulu, produk tradisional yang otentik, komoditas primer, atau kriya yang membutuhkan effort pemasaran dan komunikasi yang lebih kompleks (seperti strategi edukasi pasar, branding warisan budaya, atau pendekatan B2B/B2C yang spesifik) untuk mewakili tema kekayaan Indonesia melalui Beranda Nusantara kaya.

Post Terbaru:

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Add comment

Selamat datang di Rumah Arum,

Hai teman-teman, Arum Silviani disini. Saya adalah seorang travel blogger, Praktisi Digital Marketing and Communication, Founder Antasena Projects, dan juga Dosen di Fakultas Bisnis UMN yang suka traveling. Website yang berisi Info Traveling, Kuliner, dan Gaya Hidup yang Indonesia Banget! Disini kalian akan saya suguhi keindahan Indonesia, dari POV warga lokal.

Arum Silviani

Lecturer, Travel Blogger and Founder of Antasena Projects

Advertisement

Small ads

Arum’s Archieve

Contact Me for Business Inquiry & Collaboration

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.