Hai, kalian apa kabar? Semoga selalu sehat ya. Saya mau cerita rangkuman perjalanan saya di Sehari di Kota Kinabalu. Kemana saja sih?
Sebuah Cerita Tentang Kota Kinabalu
Kalian percaya nggak, kalau saya tuh baru paham tentang Kota Kinabalu, mungkin dua tahun lalu. Saat seorang sahabat saya yang tinggal di Singapura, cerita kalau beliau sedang berada di Kota Kinabalu untuk mempromosikan pariwisatanya.
Kemana saja sih saya? Dulu bahkan saya sempat mengira, Kota Kinabalu adalah sebuah kota nun jauh disana, yang ada Gunung Kinabalu menjulang tinggi mengelilinginya.
Saya tidak mengira sama sekali, bahwa kota yang tenang ini justru berada di pulau Borneo.

Fun Factnya lagi, saya bahkan pernah mengajar mahasiswa dari University of North Borneo, Kota Kinabalu yang pernah saya ceritakan disini: Cerita mengajar Digital Marketing di Kelas Internasional Kampus Merdeka UMN.
Memang ya, kalau belum saatnya, kepekaan itu munculnya belakangan.
Berkat permintaan Bhekti, sahabat saya untuk main ke Brunei Darussalam, saya mulai mencari tahu soal Kota Kinabalu. Ada apa saja disana? Seperti apa kotanya? Karena ternyata Brunei dan Kota Kinabalu berdekatan dan bisa ditempuh dengan Bus.
Dan…saya semakin tertarik karena se-buta itu saya dengan Kota Kinabalu. Ditambah, informasi yang saya cari di website dan youtube cukup terbatas. Wah semakin tertantang dong. Itu berarti akan banyak kejutan yang akan saya temukan jika saya kesana.
Kota Kinabalu letaknya dimana?
Kota Kinabalu adalah ibukota negara bagian Sabah, Malaysia yang berada di Pulau Borneo, atau Kalimantan. Bertetangga dengan wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan Utara.

Saat saya searching tentang Kota Kinabalu, lho…kok cakep? Kok tenang banget vibesnya? Kok sepi dan introvert friendly? Tangan saya semakin telaten menelusuri sudut demi sudut kota ini. Mulai dari menyusuri lewat google earth, google maps, artikel blog, semua saya lahap hingga akhirnya saya bisa menyusun itinerary.
Kemana Saja?
Saya pergi bersama Bhekti, Mbak Deasy, dan Teh Hety menggunakan Scoot Airlines dari Terminal 3 Soekarno Hatta menuju Singapura. Di Changi kami transit selama 2 jam, untuk kemudian melanjutkan penerbangan ke Kota Kinabalu selama 2 jam 30 menit. Pendaratan tepat waktu sesuai jadwal, yaitu 19.30 waktu Sabah.
Waktu di Sabah satu jam lebih cepat dari waktu di Jakarta. Atau sama seperti WITA.
Saat sampai Bandara Internasional Kota Kinabalu, suasana tenang menyambut kami. Benar-benar setenang itu.
Bandaranya kecil, mengingatkan saya ke Bandara Kota Malang yang sepi. Proses imigrasinya juga cepat, tidak sampai 30 menit kami sudah bisa keluar bandara.
Dari bandara, saya pesan Grab XL dengan tarif RM 14,42 atau sekitar Rp65.000. Menuju penginapan kami di Promenade Service Apartment yang berjarak 7,2km.
Driver Grabnya baik sekali. Dia mengirimkan pesan kepada saya seperti ini: Saya pekak (tuli), dan saya menunggu di KKIA Arrival Pilar 5 domestic.
Oleh karena kami mendarat di terminal internasional, maka kami berjalan dulu menuju terminal domestik. Driver dengan sigap memasukkan koper kami berempat, lalu menyusuri jalan dengan tenang.

Waktu memang baru menunjukkan pukul 20.00. Tapi suasana malam di Kota Kinabalu sudah sangat sepi. Padahal kalau di Jakarta, jam segitu sedang peak. Jam orang pulang kantor.
Menginap di Promenade Service Apartment
Meskipun penginapan kami dari luar nampak sangat sederhana, tapi ternyata di dalamnya cantik. Bersih dan fasilitasnya cukup lengkap. Ada dua ranjang Queen size, dua sofa, meja setrika, televisi, pemanas air, dan kulkas.

Di kamar mandi, water heaternya juga berfungsi dengan baik, meskipun tidak bisa terlalu panas.
Kami menginap 2 malam disini, kapasitas 4 orang, dengan harga total Rp1.350.000. Sudah termasuk pajak turis sebesar RM 10/kamar per malam. Hotel ini tidak berada di kawasan turis biasa menginap, jadi suasananya sangat tenang. Bahkan kami bisa ngobrol dengan warga lokal.
Menyusuri Kota Kinabalu
Pagi hari, kami menyusuri Kota Kinabalu yang cerah. Kami memutuskan jalan kaki menuju Gaya Street, sebuah pusat keramaian di Kota Kinabalu yang berjarak 1,2 km dari apartemen, dan bisa ditempuh selama 17 menit berjalan kaki.

Kami melihat geliat ekonomi di Pasar Besar Kota Kinabalu, yang kala itu banyak menjual buah-buahan segar. Juga pasar ikan. Kota ini dikelilingi oleh laut, sehingga wajar jika banyak seafood yang segar.

Namun demikian, dapat dikatakan kalau kondisi pasar cukup sepi. Mungkin karena kami sampai di tempat itu saat hari sudah agak siang, sekitar pukul 11.00.
Gaya Street
Gaya street adalah sebuah tempat yang terdapat banyak coffee shop dan restaurant legendaris, juga banyak turis yang tertarik menyusurinya. Tempatnya hanya sepelemparan batu dari pantai/Todak waterfront.

Karena lapar, kami brunch di Guan’s Kopitiam. Di tempat ini, makanannya halal dan cukup beragam. Kami pesan mie, bihun kuah, nasi goreng, dan teh tarik. Semuanya rasanya enak. Highly recommended buat kalian yang ke Kota Kinabalu, untuk mampir kesini.
Makanannya cocok dengan lidah kita, dan stafnya super ramah. Bikin betah pokoknya.
Zero Kilometer of Kota Kinabalu
Mulai dari nol? Tentu doong…
Dari Guans Kopitiam, kami menyusuri jalan menuju Zero Kilometer of Kota Kinabalu. Lokasinya berada di depan Sabah Tourism Board.



Kami juga mampir ke Sabah Tourism Board untuk mengambil brosur pariwisata Kota Kinabalu dan juga mengisi buku tamu disana. Meninggalkan jejak yang kelak mungkin bisa kami buka kembali.
Hotel Jesselton, Gaya Street
Hotel ini didirikan sejak tahun 1954. Sebuah hotel heritage sekaligus hotel tertua dan bersejarah di Kota Kinabalu. Hotel Jesselton terletak di jantung Jalan Gaya. Atau orang mengenalnya dengan Gaya Street. Bangunannya masih mengusung arsitektur kolonial Inggris, dan tetap dipertahankan hingga saat ini.

Di sekeliling hotel terdapat bangunan perkantoran, cafe legendaris seperti Kopi Ping, Fook Yuen Kopitiam, dan Yee Fung Laksa.

Yang saya sebutkan ini tempat makan yang halal ya. Saya mendapatkan informasi restaurant dan cafe yang halal dari brosur di Sabah Tourism Board.
Melihat Mural di Wisma Merdeka dan Lorong Seni
Seperti di Ipoh, Kota Kinabalu juga menyimpan lorong mural yang cantik. Saya menemukan satu gedung tinggi yang dilukis mural raksasa.

Sebenarnya ini merupakan mural iklan dari provider internet di Sabah. Namun karena dikemas cantik, menjadikannya spot foto yang estetik.
Dalam ilmu pemasaran, ini disebut out of home advertising, yang menghasilkan publicty.
Beli Oleh-Oleh di Bataras
Lanjut, kami beli oleh-oleh dulu di Bataras, sebuah supermarket di Sabah yang menjual aneka produk Sabah, Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat), Ipoh, dan berbagai produk Malaysia lainnya.

Disini saya membeli Kopi Tenom. Kopi khas Kinabalu, Teh Sabah, Milo, dan Coklat Sabah. Sedangkan teman-teman saya membeli gantungan kunci, magnet kulkas, dan souvenir lainnya.
Menurut saya, jika dibandingkan dengan Kuala Lumpur, souvenir disini termasuk mahal. Magnet kulkas yang dijual RM 10 untuk 6 keping, disini bisa RM 12 satu buah. Mungkin karena barangnya harus diimpor, sehingga harganya menjadi cukup mahal.
Masjid Bandaraya Kota Kinabalu
Agak jauh sedikit, kami naik Grab ke Masjid Bandaraya Kota Kinabalu. Masjid ini merupakan masjid terapung yang terletak kurang lebih 5,4 kilometer dari Gaya Street.

Perjalanan kesana yang menurut saya indah sekali, karena kita menyusuri pantai yang cantik, sejuk, dan jalanan yang teduh.
Todak Waterfront
Tadinya kami ingin menikati sunset disini. Namun ternyata, matahari tidak terlalu jelas terlihat. Meskipun demikian, tempat ini cantik sekali.

Semburat mentari menjelang senja memancar cantik di ufuk barat.
Pantai Tanjung Aru 2
Belum puas melihat tenggelamnya matahari, kami naik Grab lagi selama kurang lebih 12 menit menuju Pantai Tanjung Aru 2.

Pantai ini adalah tempat favorit warga lokal untuk menikmati terbenamnya matahari. Tidak seperti Pantai Tanjung Aru 1 yang memang tempat turis biasa mampir, pantai ini cukup lengang. Sehingga kala itu, kami menutup senja dengan sempurna di Kota Kinabalu.
Silakan kunjungi profil instagram aku buat lihat versi videonya ya.
Atau kalian bisa lihat disini:
Buat kalian yang baru mengunjungi blog ini, baca lengkap yuk tulisan saya tentang Solo Traveling ke Malaysia:
- Cara Naik Kereta dari Bandara ke BSD
- Itinerary Sehari di IPOH untuk Hijab Travelers
- Solo Traveling dan Langkah Pertama di IPOH
- Cara beli tiket ETS Malaysia
- Tips Solo Traveling ke Kuala Lumpur
- Gagal fokus di Genting Cable Car
- Genting Premium Outlet, Benarkah Semurah itu?
- Cara ke Batu Caves naik kereta
- Menapaki Ratusan anak tangga di Batu Caves
Postingan Terbaru:
- Sehari di Kota Kinabalu, Kota yang Introvert Friendly!
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!




Add comment