Setelah cerita saya tentang Jalan Prawirotaman di tulisan sebelumnya, kini saya akan mengajak kalian untuk melihat penginapan di area jalan bersejarah ini. Namanya Ministry Homestay. Saya juga akan menceritakan pengalaman menginap di Ministry Homestay Yogyakarta. Ini bukan endorse, saya bayar pakai uang saya sendiri, dan tidak diminta review oleh pihak manapun. Jadi saya akan mereview dengan sangat jujur, sesuai POV saya.
Ada rencana ke Yogyakarta? Kalian bisa contek itinerary saya disini:
Yogyakarta Series:
- Itinerary 4 Hari 3 Malam di Yogyakarta
- Menjelajah Kuliner Yogyakarta: Pasar Ngasem, Sate Kambing Mas Gandung
- nDalem Natan Royal Heritage
- Lokanusa Kotagede, Cafe yang ngasih kamu KTP gratis
- Ada salam dari Pasar Legi, Kotagede
- Jalan Prawirotaman, Tempat Hangout Wisatawan Asing di Jogja
Review Kamar Ministry Homestay Prawirotaman
Hotel ini menyatu dengan Ministry Café. Sebuah café yang nyaman dan tenang, apalagi jika dibandingkan dengan keadaan di luar. Meskipun Jalan Prawirotaman itu ramai dan berisik, namun jika masuk ke kamar di Ministry Hotel, tidak terdengar apapun. Di dalamnya terasa senyap. Konsep kamarnya pun berbeda dari semua hotel yang pernah saya datangi di Yogyakarta.
Awalnya saya agak kaget, karena Bhekti pesan 1 kamar tipe family yang muat untuk empat orang. Bentuk tempat tidurnya Double bed tingkat.
Jujur, saya belum pernah menginap di penginapan berkonsep demikian seumur hidup saya.

Saya akhirnya berkesempatan mencoba tidur di atas tempat tidur tingkat, karena badan saya paling kecil. Sedangkan Bhekti dan Mbak Deasy tidur di bagian bawah.

Meskipun tidur di tempat tidur tingkat, tapi anehnya, nyaman dong! hahaha…Nggak ada suara berisik mobil atau musik yang terdengar ke dalam kamar. ACnya juga nggak berisik, hanya getaran halus yang tandanya ACnya dirawat dengan baik.

FYI, kami menginap di kamar family, yang muat untuk 4 orang. Harga per malamnya berkisar 400ribuan. Jadi kalau diisi berempat, satu orangnya hanya bayar Rp100ribuan. Murah banget kan? Worth the money sih menurut saya.
Selain tempat tidur, ada juga meja rias dengan kaca, dan satu meja di dekat kamar mandi. Lalu kita juga disediakan 4 handuk bersih, dan air mineral 4 botol berukuran 600ml.

Kamar Mandi di Kamar Ministry Homestay Prawirotaman
Kamar mandinya luas, ada bathtub yang besar. Kayaknya muat deh buat berendam 3 orang. Karena ukurannya jadi kayak onsen atau kolam ikan gitu. Besar. Kalau kalian bawa anak kecil, mereka bahkan bisa berenang disini.
Aliran airnya juga cukup deras, dan air panasnya melimpah. Kita nggak perlu menunggu lama untuk dapat air panas dengan suhu yang pas.
Untuk kamarnya sendiri nggak terlalu luas ukurannya, tapi juga nggak bisa dibilang sempit banget. Muat buat kami bertiga buka koper, tanpa berdesakan dan masih ada ruang yang cukup untuk sholat. Desain kamarnya juga estetik. Ada balkon kecil di luar kamar kami.
Di dalam kamar mandi tersedia amenities seperti sikat dan pasta gigi. Sedangkan sabun cair tersedia di dekat shower.
Minusnya Ministry Homestay:
Tadi saya sudah bahas kelebihannya. Nggak fair dong kalau nggak bahas kekurangannya juga. So biar penilaiannya objektif, saya kasih gambaran ke kalian:
Buat saya yang suka minum kopi setelah shubuh, menginap disini jadi cukup menantang. Kita tidak disediakan teko pemanas air.
Meskipun demikian, kalian bisa pesan room service kalau mau beli makanan atau minuman. Room servicenya manual ya, karena nggak ada interkom di kamar.
Kalian harus keluar kamar dan berjalan menuju Ministry café yang cuma 5 langkah itu, lalu order ke kasir dan minta diantar ke kamar. Harganya cukup terjangkau kalau menurut saya. Harga cafe lah ya. Untuk segelas hot americano Rp18.000.
Waktu itu saya pesan kopi sekitar jam 7 pagi, cafenya sudah buka.

Kekurangan lainnya adalah di kamar mandi. Ketika dalam kondisi kering, ada bau selokan yang menyeruak. Baunya nggak kuat banget sampai level mengganggu sih, tapi cukup bau aja gitu. Kalau pintu kamar mandi ditutup ya cukup aman. Mungkin kalau ditaruhin kamper atau pewangi kamar mandi, bau ini bisa hilang.
Ministry Homestay Burjo Space
Ministry café juga nyaman buat WFC (Work From Café), atau buat sarapan. Kalian bisa menikmati pemandangan Jalan Prawirotaman lewat jendelanya yang besar, atau sekedar ngechill sambil baca buku disini.
Di setiap sudutnya, tersedia banyak buku yang bisa kalian baca. Baik buku sastra, novel populer, buku filsafat, dan lain sebagainya.


Menu makanan cukup beragam, seperti namanya, Burjo Space. yang berarti mereka menyediakan menu sederhana seperti di kedai bubur kacang ijo khas Yogyakarta.
Kalau saya punya waktu banyak di Yogyakarta, sepertinya saya akan betah nongkrong disini. WFC disini nyaman sekali. Ada AC yang dingin, menu yang murah dan banyak pilihan, juga colokan yang tersedia di setiap mejanya.
Tips Penting Menginap di Ministry Homestay:
Rekomendasi saya kalau kalian menginap disini, apalagi kalau kalian cewek dan bawa banyak barang bawaan, pilih kamar di lantai 1 saja. Karena kalau di lantai 2, tangganya sempit sekali. Agak PR kalau misalnya bawa koper naik ke atas.
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, kamar di lantai 1 itu enak. Kalau kalian lapar atau pengin pesan kopi, tinggal jalan lima langkah ke cafenya. Nggak harus naik turun tangga dulu.
Jika kalian yang punya banyak waktu luang, di Ministry Hotel ini menyediakan layanan massage dan SPA. Harganya kisaran antara 100ribuan buat 60menit dan 200ribuan buat 90 menit. Murah deh. Sayang saat itu saya nggak punya banyak waktu. Sibuk eksplore Kotagede dan Muntilan hehehe…next mungkin saya akan mencobanya.
Lesson Learned Pengalaman Menginap di Ministry Homestay
Secara keseluruhan, berdasarkan pengalaman saya menginap di Ministry Homestay Yogyakarta, tempat ini sangat terjangkau dari segi harga, strategis juga dalam aksesibilitas. Meskipun sederhana, Ministry Homestay Hotel memberikan kenyamanan yang kami butuhkan.
Kita bisa jalan kaki ke seluruh tempat hits seperti Tempo Gelato, Palka, Bunaaca, Oasis, dan aneka café hits lainnya di sekitar Prawirotaman.
Dari segi harga, fasilitas, pelayanan, dan aksesibilitas, saya kasih rating 4,7. Apa yang membuatnya bisa jadi 5? Tentu saja “kehadiran” teko pemanas air dan pewangi kamar mandi. Hehehe…
Bagaimana, apakah kalian sudah siap mengeksplore tempat selain Malioboro?
Post Terbaru:
- BSD ke Bandung Naik Kereta Parahyangan Fakultatif
- Cerita Tentang Anjloknya Kereta Api Ciremai, dari POV Penumpang KA Parahyangan Fakultatif
- Mengapa Orang Cerdas Sering Sulit Menjelaskan Sesuatu? Mengenal The Curse of Knowledge
- Tantangan Memilih Outfit Kerja di Gading Serpong, Sebuah Kawasan yang Mataharinya serasa Ada 6!
- Tantangan Dosen di Dunia Digital: Dilema antara menjaga otoritas ilmiah dan tuntutan algoritma




Add comment